Wajah Sastra dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013

Pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan pembelajaran yang sangat penting peranannya untuk membentuk daya nalar siswa dan mengenalkan sastra sebagai salah satu bentuk kebudayaan di Indonesia kepada para siswa. Namun, ada beberapa hal penting yang harus dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah mengingat sastra masuk ke dalam bagiannya dengan menggunakan acuan kurikulum yang diberlakukan saat ini.

Pertama, dalam Kurikulum 1994, misalnya, yang diberlakukan di SMU disebutkan bahwa pembelajaran sastra dalam berbagai aspeknya diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para siswa sesuai dengan tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada siswa. Karena itu, kegiatan apresiasi tidak hanya bersifat reseptif: menerima sesuatu secara pasif. Tetapi, yang lebih penting, apresiasi juga bersifat produktif: menghasilkan sesuatu secara aktif.

Oleh karena itu, pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal idealnya tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre tertentu untuk dipahami dan diinterpretasikan oleh siswa (apresiasi reseptif). Pembelajaran sastra harus diarahkan pada penumbuhan kemampuan siswa dalam menilai atau mengkritik kelebihan dan kekurangan teks yang ada dan akhirnya, berdasarkan penilaian/kritik tersebut, siswa mampu membuat sebuah teks lain yang lebih bermutu, baik teks yang segenre ataupun tidak.

Sampai pada kurikulum KTSP tahun 2006, pembelajaran sastra masih mendapatkan porsi yang banyak selain bahasa. Hal itu merupakan kelegaan tersendiri. Akan tetapi, sejak diberlakukannya Kurikulum 2013, sastra mulai mendapatkan pengurangan porsinya sehingga terlihat sekali bahwa wajah sastra dalam Kurikulum 2013 tidak secerah pada Kurikulum KTSP 2006.

Misalnya, dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas X SMA terdapat lima materi yang diajarkan berupa teks. Teks tersebut adalah teks laporan hasil observasi, teks eksposisi, teks prosedur kompleks, teks anekdot, dan teks negosiasi. Selama satu tahun, siswa hanya mempelajari satu teks sastra, yaitu teks anekdot. Apabila dibandingkan dengan materi bahasa, maka sastra 1:4 dengan bahasa. Hal tersebut di luar kewajaran mengingat pembelajaran sastra membantu siswa mengembangkan nalar.

Wajah sastra dalam Kurikulum 2013 yang semakin hilang pada dasarnya disebabkan oleh fungsi bahasa Indonesia sebagai penghela dan pembawa ilmu dalam mata pelajaran lain. Fungsi itu mau tidak mau menuntut bahasa Indonesia menyesuaikan diri terutama dalam aspek materi. Sastra dianggap tidak begitu menampung materi mata pelajaran lain sehingga teks yang dipelajari lebih banyak diemban oleh bahasa.

Kondisi tersebut diperparah dengan keberadaan kendala dalam memperkenalkan sastra kepada peserta didik di tingkat SMP dan SMA. Kendala itu terletak pada minimnya bacaan sastra bagi siswa. Di sekolah siswa hanya menerima bacaan sastra berupa sastra populer bukan jenis sastra serius. Langkanya buku sastra serius tadi untuk dijadikan bahan bacaan menyebabkan siswa enggan membaca. Bacaan yang terbit dan sampai pada kita tampaknya terlalu berat bagi siswa-siwi karena biasanya buku-buku itu berasal dari balai pustaka dan terkadang Gramedia. Barangkali ada sebagian siswa kita yang tertarik secara khusus pada bidang bahasa dan sastra, namun jumlah mereka sedikit sehingga banyak sekolah yang tidak tidak membuka jurusan ini. Pengajaran bahasa dan sastra di sekolah-sekolah kita agaknya semakin mengarah pada usaha untuk menunjang kemampuan siswa untuk dapat lolos dan lulus SPMB. Dengan demikian, fungsi sastra sebagai alat untuk memperhalus akal budi manusia menjadi terpinggirkan (Il).

Pencarian Terkait:

Tags: #bahasa indonesia #Kurikulum 2013 #Pembelajaran #Sastra

8 Saran Asing Yang Berguna Buat Mahasiswa
8 Saran Asing Yang Berguna Buat Mahasiswa
Masa-masa kuliah sering jadi momen yang sulit dilupakan
Belajar Finansial sejak Dini
Belajar Finansial sejak Dini
Seberapa muda seseorang mesti mulai memahami seluk
Sinopsis : English Vinglish
Sinopsis : English Vinglish
English Vinglish adalah sebuah film yang unik
Jangan Hanya Bertumpu pada Pendidikan Formal
Jangan Hanya Bertumpu pada Pendidikan Formal
Jutaan anak usia sekolah yang belum bersekolah
  1. bhery7 months ago

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai sastra . Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai sastra yang bisa anda kunjungi di http://www.lepsab.gunadarma.ac.id

    Reply

Leave a reply "Wajah Sastra dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013"

Must read×

Top