Sekolah Gajahwong : Tempat Anak Pemulung Menuntut Ilmu

Gang sempit dengan lebar kira-kira 1,5 meter di antara dua rumah gedong mengantarkan ke perkampungan tanpa alamat yang diberi nama Ledok Timoho di bantaran kali Gajahwong. Di antara rumah warga terdapat dua bangunan masing-masing seukuran sekitar 4×7 meteran yang digunakan anak-anak untuk mengenyam pendidikan. Mereka menyebut tempat itu Sekolah Gajahwong. Meski hanya terdapat dua kelas, sekolah ini menjadi harapan bagi warga sekitar yang rata-rata bekerja sebagai pemulung. Bagi mereka sekolah itu menjadi pondasi pendidikan anak-anak mereka supaya kelak tidak bernasib seperti orang tuanya.

“Semangatnya mendirikan sekolah ini, anak-anak orang-orang di sini tidak lagi seperti orang tuanya, nasib mereka harus lebih bagus,” kata Faiz Fakhruddin, salah seorang perintis sekolah Gajahwong yang kini menjadi kepala sekolah.

Sekolah Gajahwong terdiri dari dua kelas, yaitu kelas akar untuk anak-anak usia 3-5 tahun dan kelas rumput untuk anak-anak usia 5-7 tahun. Setiap harinya anak-anak belajar mulai dari pukul 07.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB.

“Dulu yang sekolah di sini ya anak-anak warga di sini, sekarang sudah beberapa dari kampung lain,” tambahnya.

Untuk bisa bersekolah di sini pun, orang-orang tidak perlu membayar dengan uang. Para orangtua murid hanya dimintai sampah sebagai gantinya.

“Dibilang gratis ya gratis, tapi bukan gratis. Poinnya orang tua murid punya kontribusi. Ada sumbangan sampah dan piket bersih-bersih kelas,” ungkapnya. Setelah sekolah Gajahwong berjalan, tantangan besar adalah menghidupinya. Tak dipungkiri Faiz Fakhruddin salah seorang perintis, mereka membutuhkan biaya untuk menjalankan sekolah.

Bersama teman-temannya di komunitas Tabah (Advokasi Arus Bawah) Faiz berpikir keras bagaimana caranya supaya mereka bisa menggaji guru dengan layak, bisa menyediakan sarana belajar yang baik dan kebutuhan lainnya.

Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat divisi fundraising sekolah Gajahwong. Karena sebagian besar dari orangtua murid ada pemulung, mereka pun berpikir mencari uang dengan sampah. Mereka membuat program donasi sampah untuk Sekolah Gajahwong.

“Donasi sampah ini berjalan baik, kita minta sampah-sampah dari warga, kita pun siap menjemput kalau ada yang mau donasi. Sekarang kita sudah punya beberapa toko dan fotokopian yang secara rutin, memberikan sampahnya 100 persen ke kami,” katanya.

Hasilnya tak mengecewakan. Dari hasil menjual sampah tersebut mereka bisa membayar lima orang guru profesional. Tak cuma donasi sampah, mereka pun membuat peternakan bebek kecil-kecilan dan kambing.

“Mulanya kita dapat sumbangan Sapi dari orang di Bandung, lalu kita jual kita belikan kambing. Kambing kita jual beberapa kita belikan bebek. Sampai sekarang itu juga membuat sekolah ini bertahan,” ujarnya.

Selain usaha tersebut mereka juga menggalang donasi dari beberapa perusahaan dan personal. Namun itu tidak menghasilkan banyak.

“Saya buka, donasi kita perbulan itu cuma dari coklat monggo dan restoran Milas, kita dapat Rp 600 ribu per bulan. Kita juga buat kaos untuk dijual di sunmor UGM,” tambahnya.

Untuk mengejar pembangunan kelas baru pada tahun 2015 ini, mereka pun menambah pemasukan dengan membuat kolam ikan. Hasilnya penjualan ikan nantinya akan dibeli bahan bangunan untuk membuat kelas baru.

Sekolah Gajahwong dirintis pada tahun 2011 atas kegelisahan nasib para anak-anak pemulung yang tidak mengalami perubahan. Hampir semua anak pemulung menjadi pemulung, anak pengamen menjadi pengamen. Tidak ada kemajuan.

Jerih payah membangun sekolah tersebut pun terbayarkan. Saat ini mereka sudah memiliki dua kelas, guru profesional dan 39 murid. Rencananya mereka akan menambah kelas lagi pada tahun depan. Tidak seperti sekolah TK pada umumnya, sekolah Gajahwong menggunakan kurikulum dengan anak sebagai pusat belajar. Guru tidak menentukan materi-materi pelajaran, tetapi anak-anak yang menentukan sendiri materi pelajaran apa yang mereka pelajari.

Setiap dua kali dalam satu semester, masing-masing kelas mengadakan rapat untuk menentukan apa yang akan mereka pelajari. Dari rapat tersebut kemudian dihasilkan satu tema yang akan di pelajari selama tiga bulan.

“Anak maunya belajar apa, ya itu yang kita berikan, misalnya tema yang baru di angkat kemarin planet. Anak-anak akan belajar tentang planet, nanti akan ada variasi kegiatannya,” jelas Faiz Fakhruddin, salah satu perintis sekolah Gajahwong.

Setelah menentukan tema, maka pelajaran pun kemudian dimulai. Setiap hari Selasa dan Rabu mereka melakukan aktivitas “area”. Area yang dimaksud masing-masing anak akan belajar sesuai dengan area yang mereka pilih. Pada hari Kamis, mereka akan belajar motorik. Mereka melakukan permainan-permainan yang menggunakan motorik anak.Sementara hari Senin merupakan hari spesial bagi anak-anak. Pada hari itu mereka akan merayakan hari-hari nasional dan internasional.Selain kegiatan itu, mereka membuat proyek dan melakukan trip terkait dengan tema. Dalam proyek, mereka membuat karya dengan menggunakan sampah.Pada akhir tema, mereka kemudian melakukan semacam presentasi. Dalam presentasi tersebut anak-anak satu persatu akan bercerita kepada orang tua dan teman-temannya apa yang dipahami tentang tema yang baru mereka angkat.Sementara itu pada hari Sabtu anak-anak libur sekolah, giliran orang tua anak-anak yang sekolah. Para orang tua diberikan pelajaran tentang bagaimana mengasuh dan memperlakukan anak.

(Sumber: merdeka.com)

Pencarian Terkait:

Tags: #gajahwong #gratis #menuntut ilmu #pemulung #Sekolah

Inilah Penentu Kelulusan SNMPTN 2016
Inilah Penentu Kelulusan SNMPTN 2016
Meski masih memasuki proses pendaftaran, para siswa
Praktik baik dalam Pelaksanaan MOS / OSPEK di SMPN 12 Jakarta
Praktik baik dalam Pelaksanaan MOS / OSPEK di SMPN 12 Jakarta
Senin 27 Juli 2015 Merupakan hari pertama
Pemerintah Berencana Tingkatkan Daya Tampung Sekolah
Pemerintah Berencana Tingkatkan Daya Tampung Sekolah
Pemerintah berencana meningkatkan daya tampung sekolah secara

Comments are closed.

Must read×

Top