Potret Pendidikan “Pelajar Rantau” Anak TKI di Sabah Malaysia

“Kunang-kunang negeri itu jauh terdampar di lebatnya pepohonan sawit tanah rantau”

“Kunang-kunang pertiwi itu hinggap di langit seberang pulau termakan waktu yang tak menentu”

Begitulah kiranya dua baris kalimat yang mewakili bagaimana kondisi anak-anak negeri yang ada di tanah rantau Malaysia. Anak-anak ini dibawa orang tua mereka masing-masing untuk ikut menikmati ringgit dan bekerja di teriknya panas negara tetangga. Sejak tahun 1970, Indonesia dan Malaysia memulai kerja sama di bidang pendidikan diantaranya meliputi pertukaran pelajar, beasiswa, dan pengaturan visa. 

Kerja sama ini menindaklanjuti nota kesepakatan kerja sama dalam bidang pendidikan dengan mengadakan pertukaran pelajar, seminar dan diskusi, serta penelitian bersama yang sering diselenggarakan oleh perguruan-perguruan tinggi di kedua negara. Seiring berjalannya waktu, kerja sama tersebut bergeser tidak hanya pada sektor di atas, namun merembet pada ranah peluang kerja yang dapat diambil oleh warga negara Indonesia untuk bekerja di Malaysia sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Berbagai faktor yang mendorong tingginya minat para TKI untuk bekerja di Malaysia ternyata membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan pendidikan anak mereka. Sabah sebagai salah satu tujuan utama para TKI menjadi saksi bisu bagaimana pengaruh negatif tersebut berkembang disini.

sabah 1

Peta Sabah

Sabah adalah salah satu negara bagian Malaysia yang berada satu pulau dengan provinsi di Indonesia yaitu di pulau Kalimantan. Terletak di timur laut pulau Kalimantan, Sabah adalah negara bagian kedua terbesar di Malaysia setelah tetangganya di barat daya, Serawak. Sabah juga berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Utara Indonesia, di selatan. Ibukota negara bagian ini adalah Kota Kinabalu. Dengan banyaknya peluang pekerjaan di Sabah yang rata-rata dikuasai oleh perkebunan sawit, tidak heran warga negara Indonesia berbondong-bondong kesini. Berdasarkan data Konsulat Republik Indonesia di Tawau, jumlah anak TKI di daratan Sabah, Malaysia yang terlayani pendidikan saat ini sebanyak 20.759 orang. Padahal secara lebih rinci, jumlah persebaran anak-anak TKI menunjukkan, jumlah anak TKI terbanyak masih berada di kawasan Tawau yakni sebanyak 26.248 anak. Selanjutnya di kawasan Sandakan terdapat 8.788 anak. Sementara di Kudat sebanyak 110 anak, di wilayah Kota Marudu sebanyak 5.730 anak serta di kawasan pedalaman Sabah sebanyak 4.489 anak. Data ini akan terus berubah seiring bertambahnya jumlah TKI yang masuk ke Malaysia khususnya Sabah.

Minimnya sarana pendidikan serta tuntutan perekonomian memaksa anak-anak TKI untuk bekerja membantu orang tua demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sebelumnya, perusahaan tempat TKI bekerja bersama dengan lembaga non pemerintah Humana telah mendirikan pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) di beberapa daerah perkebunan dimana banyak terdapat TKI. PKBM ini merupakan lembaga pendidikan nonformal yang hanya memberikan pengetahuan sebatas baca dan tulis serta pengetahuan keterampilan. Sayangnya, PKBM tidak memberikan fasilitas lebih lanjut bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yang membutuhkan surat keterangan lulus dari sekolah formal. Selain permasalahan di atas, kurikulum pembelajaran pada PKBM ini lebih dititikberatkan pada kurikulum Malaysia. Akibatnya, anak-anak TKI tidak mengenal sejarah Indonesia dan lagu kebangsaan Indonesia. Ini sangat memprihatinkan bagi kemajuan bangsa Indonesia mengingat masa depan Indonesia berada di tangan anak-anak.

images (3)

Perkebunan Sawit

Saat ini terdapat 207 PKBM yang tersebar di Sabah. PKBM tersebut banyak berdiri di tengah hijaunya pekebunan Sawit di Sabah dimana orang tua mereka bekerja. PKBM yang didirikan sedianya telah memberikan sedikit cahaya bagi anak-anak TKI di perkebunan sawit. Anak-anak para TKI dapat bersekolah dengan tenang di saat orang tua mereka bekerja di pagi hari. Lagipula pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dalam menyikapi hal tersebut dengan mengirimkan ratusan pendidik untuk mendidik anak-anak TKI tersebut, tentu saja dengan harapan budaya dan sejarah akan negerinya sendiri tidak akan luntur dari anak-anak rantau ini. Selain itu, pemerintah juga telah mendirikan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) yang menjadi sekolah inti yang membawahi keberadaan Community Learning Centre (CLC) yang terdapat di Sabah. Selain itu, SIKK juga memfasilitasi program paket A,B, dan C dalam sebagai salah satu bentuk ujian nasional bagi anak-anak TKI yang bersekolah di pusat pendidikan non-formal. Community Learning Center yang terbentuk diharapkan mampu mendidik anak-anak indonesia di Malaysia tersebut seperti halnya sekolah-sekolah reguler yang ada di Indonesia walau secara bentukan CLC merupakan jenjang Sekolah Menengah Pertama Terbuka di Luar negeri. Saat ini, terdapat 38 CLC yang sudah terdaftar dan mendapat pengakuan dari Indonesia dan Malaysia. Pada masing-masing CLC pada umunya diisi oleh minimal satu pendidik dari Indonesia yang didatangkan setiap tahunnya melalui sistem kontrak. Kurikulum yang digunakan pun menggunakan kurikulum yang digunakan di Indonesia dan juga mengikuti kalender pendidikan yang berlaku di Indonesia.

Kelas Humana

Kelas Humana

Seiring berjalannya waktu, saat ini CLC sudah mampu meluluskan dua angkatan kelas IX SMP anak-anak Indonesia yang ada di Sabah Malaysia. Siswa-siswa yang berhasil lulus tersebut, beberapa dari mereka mampu melanjutkan sekolahnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas di Indonesia dengan jalur Beasiswa dari beberapa pihak seperti Pertamina Foundation, Permata Insani Boarding School di Tangerang, dan beberapa yayasan yang dimiliki oleh pendidik sendiri. Hanya melalui beasiswa-beasiswa tersebutlah anak-anak berprestasi mutiara negeri di tanah rantau tersebut dapat melanjutkan sekolahnya dengan masa depan yang terjamin. Pada awal tahun 2015 ini, telah diresmikan juga gedung SMA baru di Kota Kinabalu oleh Menteri Pendidikan yang baru. Dengan semakin terbukanya jalur pendidikan yang ada, diharapkan muncul kesadaran untuk para orang tua yang membawa anaknya ikut merantau untuk sadar akan arti pendidikan untuk anaknya. Kesadaran ini harus diimbangi dengan kewajiban untuk mengembalikan permata-permata bangsa ini untuk kemudian mengabdi bagi bangsanya sendiri yaitu Indonesia. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini bukan hanya ada pada anak-anak negeri yang ada di rumah sendiri. Namun, jalan masa depan negeri ini juga ditentukan dari semangat dan rasa haus akan pendidikan siswa-siswa rantau yang ada di luar negeri Indonesia. Karena mereka juga mampu, dan mereka berhak akan tanggung jawab itu.

IMG2015011416135211

Pencarian Terkait:

Tags: #CLC #Humana #pendidikan #Sabah #TKI

Inilah Penentu Kelulusan SNMPTN 2016
Inilah Penentu Kelulusan SNMPTN 2016
Meski masih memasuki proses pendaftaran, para siswa
Praktik baik dalam Pelaksanaan MOS / OSPEK di SMPN 12 Jakarta
Praktik baik dalam Pelaksanaan MOS / OSPEK di SMPN 12 Jakarta
Senin 27 Juli 2015 Merupakan hari pertama
Pemerintah Berencana Tingkatkan Daya Tampung Sekolah
Pemerintah Berencana Tingkatkan Daya Tampung Sekolah
Pemerintah berencana meningkatkan daya tampung sekolah secara

Leave a reply "Potret Pendidikan “Pelajar Rantau” Anak TKI di Sabah Malaysia"

Must read×

Top