Freedom Writers : Cermin Sosok Guru Inovatif

 

Film “Freedom Writers” karya Richard LaGravenese ini menceritakan tentang kehidupan seorang guru yang bernama Erin Gruwell bersama murid-muridnya di ruang 203 di tahun 1990an. Setelah beberapa kerusuhan di Los Angeles di tahun 1992 terjadi, keadaan di kota tersebut dan beberapa kota di California menjadi sangat tidak aman. Perang geng, pembunuhan, rasisme, dan kebencian adalah hal-hal yang lekat dengan masa itu. Melihat berbagai peristiwa semacam itu, Erin Gruwell tidak diam saja. Ia ingin melakukan sesuatu yang bisa merubah keadaan tersebut dan caranya adalah dengan menjadi guru di SMU Woodrow Wilson di Long Beach, California. Mengajar di SMU tersebut adalah pengalaman pertama baginya.
Gruwell mengajar di kelas Bahasa Inggris ruang 203 yang murid-murinya sangat pro terhadap rasisme. Murid-murid di ruang tersebut duduk berdasarkan ras mereka. Orang Kamboja duduk bersama teman-teman mereka yang juga merupakan orang Kamboja. Demikian halnya dengan orang Negro, kulit putih, dan orang Latin yang ada di kelas tersebut. Di awal pertemuan, murid-muridnya yang berada di ruang 203 mengacuhkannya, bahkan sempat terjadi perkelahian saat ia sedang mengajar. Di pertemuan-pertemuan selanjutnya keadaan masih sama.
ITIL-F

 

Saat Gruwell mengajar di kelas, ia menemukan gambar salah satu muridnya (Tito) yang merupakan orang Latin. Gambar itu adalah gambar seorang Negro yang merupakan teman mereka sendiri (Jamal) dengan bibir yang tebal dan monyong. Gruwell merasa kesal dan ia mulai menasehati murid-muridnya bahwa di jaman Nazi gambar seperti itu bisa memperkeruh keadaan dan orang-orang yang tidak bersalah bisa terbunuh. Ia menyebut kata Holocaust dan mengatakan bahwa geng sejati itu bukan mereka yang berani mati untuk gengnya dengan sia-sia tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang. Geng sejati ialah mereka yang bisa meninggalkan kebaikan dan perubahan untuk lingkungan sekitarnya. Setelah peristiwa itu, murid-murid Gruwell mulai sadar dan menghargai ia sebagai seorang guru.
Gruwell rela bekerja paruh waktu sebagai pegawai di sebuah hotel dan toko pakaian dalam wanita agar dapat membelikan murid-muidnya sejumlah buku yang berhubungan dengan keadaan mereka saat itu seperti Diary of Anne Frank dan sebagainya. Gruwell juga mau mengajak mereka ke Museum of Tolerance dan makan bersama dengan korban-korban Holocaust yang masih hidup di restoran tempat ia bekerja agar mereka benar-benar paham tentang apa yang disebut dengan Holocaust.
Sejak murid-murid di ruang 203 membaca buku-buku tersebut dan paham mengenai Holocaust, mereka berubah total. Mereka tidak lagi mempermasalahkan ras. Mereka mulai mengenal dan dekat satu sama lain. Mereka juga sempat menggalang dana untuk mendatangkan Miep Gies sebagai pembicara di kelas mereka. Miep Gies adalah wanita tua yang dulunya menyembunyikan Anne (dalam buku Diary of Anne Frank) saat pemburuan terhadap orang-orangYahudi terjadi. Ia mengatakan bahwa ia bukanlah pahlawan, tapi ia hanya melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan.

 

 

Di akhir cerita, Gruwell menyuruh murid-muridnya untuk menggabungkan diary-diary mereka dalam sebuah buku yang nantinya bernama The Freedom Writers Diaries. Gruwell juga berhasil menjadi guru mereka selama mereka di kelas junior dan senior. Murid-murid di ruang 203 berhasil lulus dari perguruan tinggi atas perjuangan Gruwell.
JK0-019

 

Diolah dari: anlyartdianjuliarti.blogspot.com

Pencarian Terkait:

Tags: #guru inovatif

Logo Koperasi Indonesia Beserta Artinya
Logo Koperasi Indonesia Beserta Artinya
Logo Koperasi Indonesia merupakan salah satu materi
Lambang Koperasi Lama dan Baru Beserta Artinya
Lambang Koperasi Lama dan Baru Beserta Artinya
Lambang koperasi sampai saat ini telah mengalami
Inilah Beberapa Tips dan Teknik Membaca Cepat
Inilah Beberapa Tips dan Teknik Membaca Cepat
Teknik membaca cepat mungkin menjadi hal yang
Cara Mudah Membuat Proposal Usaha
Cara Mudah Membuat Proposal Usaha
Ketika anda ingin memulai usaha, namun anda

Leave a reply "Freedom Writers : Cermin Sosok Guru Inovatif"

Must read×

Top