Fakta Fakta Unik Pendidikan Dasar di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara maju dengan kemampuan penguasaan teknologinya. Jepang tidak memiliki sumber daya yang melimpah, sehingga pemerintah jepang mengandalkan sumber daya manusia sebagai kekuatan utama negara. Pendidikan di jepang menjadi concern utama bagi pemerintah jepang. beberapa universitas di jepang menjadi tujuan utama pencari beasiswa di jepang, seperti Universitas Tokyo, Universitas Keio, dan Universitas Waseda. Berbagai teknologi baru telah diciptakan oleh peneliti peneliti jepang terutama di bidang robotik, hampir semua teknologi terbaru yang bermanfaat akan segera diterapkan oleh pemerintah jepang.

The Ministry of Education, Culture, Sports, Science, and Technology (MEXT) merupakan lembaga utama yang mengurus segala sesuatu tentang pendidikan. kurikulum di jepang juga sering mengalami perbaikan untuk terus meningkatkan mutu sumber daya manusianya.

berikut ini fakta fakta unik pendidikan dasar di jepang :

Anak-anak yang berusia 6 tahun pada tanggal 1 April diwajibkan bersekolah

Peraturan ini sangat ketat. Bagi mereka yang lahir pada tanggal 2 April, harus mendaftar di tahun berikutnya meski hanya berselisih satu hari saja. Proses pendaftaran dilakukan sejak bulan Agustus tahun sebelumnya. Kantor-kantor kecamatan akan mengirimkan formulir kepada para orang tua di dalam wilayahnya. Jika orang tua memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya, misalkan memilih homeschool, mereka harus menjelaskan dengan rinci alasan mereka ke kantor kecamatan.

Kebanyakan sekolah negeri, tidak mewajibkan seragam

Kebanyakan sekolah negeri, tidak mewajibkan seragam, namun  harus mengenakan name tag di saku kiri baju. Lalu, biasanya ada juga badge di bahu kirinya, yang warnanya disesuaikan dengan tingkatan kelas (misalnya kuning untuk kelas 1).Biasanya tas anak SD dilengkapi dengan peluit kecil (yang dibagikan gratis dari sekolah). Peluit ini diajarkan kpd anak-anak untuk ditiup kalo bertemu dengan orang asing  (tdk dikenal) yang mengganggu.

Orang tua tidak boleh menyekolahkan anak ke distrik yang lain

Compulsary Education (gimukyouiku) atau istilah dalam bahasa Indonesia adalah “program wajib belajar”. Compulsory Education di Jepang dilaksanakan dengan prinsip memberikan akses penuh kepada semua anak untuk mengenyam pendidikan selama 9 tahun (SD dan SMP) dengan menggratiskan ‘tuition fee’. Untuk memudahkan akses, maka di setiap distrik didirikan SD dan SMP walaupun daerah kampung dan siswanya minim (per kelas 10-11 siswa). Orang tua pun tidak boleh menyekolahkan anak ke distrik yang lain, jadi selama masa compulsory education, anak bersekolah di distrik masing-masing. Mutu sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan sekolah, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan ‘sama’, sebab Ministry of Education(MOE) mengondisikan equality di semua sekolah.

Anak SD dan SMP si Jepang wajib jalan kaki

walaupun di rumah punya mobil sepeda atau motor, tetap saja nggak boleh diantar. Salah satu kelebihan sistem ini, tidak ada kemacetan akibat ortu nganter anak ke sekolah. Siswa berjalan ke sekolah dalam grup grup yang sudah ditentukan. Mereka berangkat memakai topi kuning dan harus bersama sama dalam grup nya masing masing. Jika ada yang tidak masuk, ketua grup wajib melapor ke sekolah.

Makan siang sekolah (kyuushoku) disiapkan secara profesional

Setiap bulan, orang tua diberikan daftar menu yang cukup detil seperti bahan yang digunakan beserta jumlah kalorinya. Menunya sehat sekali. Ada nasi atau roti, lauk, sayuran, buah, dan susu atau jus. Makanan ini ditaruh di trolley dan diantarkan ke masing-masing kelas. Dua anak bergiliran bertugas untuk membagikan makan siang ini kepada teman-temannya. Mereka memakai baju seragam putih beserta topi dan tidak lupa untuk memakai masker. Waktu makan siang tidaklah lama. Mereka hanya diberi waktu 20 menit saja. Di Jepang, anak-anak yang mempunyai alergi diberikan menu khusus.

Pendidikan dasar di Jepang tidak mengenal ujian kenaikan kelas

Siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP masih termasuk kelompok “compulsoy education”, sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP. Guru tetap melakukan ulangan sekali2 untuk mengecek daya tangkap siswa. Dan penilaian ulangan pun tidak dengan angka tetapi dengan huruf : A, B, C, kecuali untuk matematika. Dari kelas 4 hingga kelas 6 juga dilakukan test IQ untuk melihat kemampuan dasar siswa. Data ini dipakai bukan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan hasil test IQ-nya, tetapi untuk memberikan perhatian lebih kepada siswa dengan kemampuan di atas normal atau di bawah normal. Perlu diketahui, siswa di Jepang tidak dikelompokkan berdasarkan kepandaian, tetapi semua anak dianggap ‘bisa’ mengikuti pelajaran, sehingga kelas berisi siswa dengan beragam kemampuan akademik.

Pencarian Terkait:

Logo Koperasi Indonesia Beserta Artinya
Logo Koperasi Indonesia Beserta Artinya
Logo Koperasi Indonesia merupakan salah satu materi
Lambang Koperasi Lama dan Baru Beserta Artinya
Lambang Koperasi Lama dan Baru Beserta Artinya
Lambang koperasi sampai saat ini telah mengalami
Inilah Beberapa Tips dan Teknik Membaca Cepat
Inilah Beberapa Tips dan Teknik Membaca Cepat
Teknik membaca cepat mungkin menjadi hal yang
Cara Mudah Membuat Proposal Usaha
Cara Mudah Membuat Proposal Usaha
Ketika anda ingin memulai usaha, namun anda

Leave a reply "Fakta Fakta Unik Pendidikan Dasar di Jepang"

Must read×

Top