5 Contoh Cerpen Singkat Terbaik

Cerpen merupakan kependekan dari cerpen. Cerpen merupakan sebuah tulisan yang berisi berbagai cerita singkat. Cerpen memiliki beberapa genre, seperti cerpen horor, cerpen romantis, dan lain lain. Pada kesempatan kali ini , Bangkudepan akan memberikan beberapa contoh cerpen singkat yang mungkin bisa membantu kamu untuk mendapatkan inspirasi dalam menulis cerpen karyamu sendiri.

Lihat juga Contoh Resensi Buku

Berikut ini adalah beberapa contoh cerpen singkat :

Dialog Uang Dalam Kotak Amal

contoh cerpen singkat

Oleh Kiptiah Hasan

“Asyik.. Asyik… aku masuk ke dalam kotak amal.” Goci berteriak senang.

Ia pun langsung berbaur dengan dengan uang-uang lainnya, ada si Sebi (seribu), si Gopi (lima ratus), si Sepu (Sepuluh ribu), si Dopu (dua puluh ribu), si Limbu (lima puluh ribu) dan si Sertu (seratus ribu).

“Hai kawan-kawan. Senangnya bertemu dengan kalian di sini. Ssemoga kita bisa menjadi saksi dari orang-orang yang menaruh kita ke dalam kotak amal ini.” Goci menyapa semua uang di dalam kotak amal bening itu.

Semua uang tersenyum menyambut kedatangan si Goci.

Kotak amal bening yang berada di Masjid Akbar, senantiasa menjadi pemandangan umum para jamaah yang hilir mudik hendak melaksanakan shalat. Keberadaannya di depan pintu masjid sangat strategis, tidak jarang orang-orang dengan senangnya “menitipkan” uangnya ke dalam kotak amal. Tapi ada juga yang enggan atau pura-pura tidak melihat bahwa di depannya ada kotak amal.

Dan hari ini adalah hari bersejarah bagi Goci. Bukan karena nilainya yang termasuk besar yang ada di dalam kotak amal. Tapi karena si pemilik Goci sebelumnya yang ia tahu bukanlah orang yang tergolong mampu. Hanya si bapak tukang sapu jalanan. Goci sempat melirik wajah bapak itu sebelum memasukkan Goci kedalam kotak amal. Tersirat keikhlasan dalam wajah lugunya. Goci sempat mendengar gumaman bapak itu, “Ya Allah, terimalah sedekahku untuk rumah-Mu, semoga uang ini bisa bermanfaat.”

Sebelum berada di kotak amal dan milik si bapak tukang sapu jalanan, Goci adalah milik orang kaya yang memberikan Goci pada bapak tukang sapu jalanan. Sebagai imbalan karena telah membantu menyapu halaman rumahnya, alasan orang kaya itu memberi.

Dan kejadian itu belum berlangsung lama. Hanya sekitar dua puluh menit sebelum Goci di masukkan kedalam kotak amal, beberapa saat sebelum azan ashar berkumandang. Tapi bapak tukang sapu jalanan itu merasa bahwa uang yang di dapat hari ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya bersama istri dan keempat anaknya yang masih kecil, maka Goci pun langsung berpindah ke kotak amal.

Goci amat terharu. Ia bisa menjadi tabungan kebaikan bagi bapak tukang sapu jalanan. Nilai yang biasanya hanya di berikan dari kantong orang-orang kaya. Tapi kali ini bukan orang kaya yang memasukkan Goci ke kotak amal, hanya orang biasa. Yang mungkin karena ketulusannya bisa menjadi istimewa di hadapan Allah.

Goci ingat. Ketika pemiliknya masih orang kaya, ia berada di dompet pemiliknya dalam waktu lama. Justru yang sering keluar dari dompet adalah si Limbu dan si Sertu. Itupun yang Goci tahu, kawannya itu meninggalkan dompet pemiliknya tatkala Goci dan kawan-kawan berada di pusat perbelanjaan mewah.

Pernah suatu kali, pemiliknya itu pergi ke Masjid Akbar. Saat itu, ia hendak melaksanakan sholat zuhur sehabis makan siang. Seusai sholat ia melirik ada kotak amal bening. Sempat berfikir lama, akhirnya ia merogoh kantong dan menemukan si Sebi. Dan masuklah si Sebi ke kotak amal itu sebagai penghuni.

Meski Goci dan Sebi pernah di miliki oleh orang yang sama sebelumnya, tapi mereka belum pernah berjumpa. Mereka sadar bahwa mereka pernah di miliki oleh orang yang sama justru ketika mereka berjumpa dalam kotak amal, saat mereka berbagi cerita.

“Mungkin karena aku hanya berada di kantong celana sedangkan kau di dompet, jadinya kita tidak pernah bertemu.” Sebi memberikan penjelasan kepada Goci.

“Alhamdulillah kita bertemu di sini ya Sebi. Padahal aku berharap yang memasukkanku ke dalam kotak amal adalah orang kaya itu.” Goci pun menerawang.

“Tidak apa Goci, justru kamu akan menjadi lebih bernilai nanti di akhirat. Karena jumlahmu yang termasuk besar bagi bapak tukang sapu jalanan, tapi tidak menghalanginya untuk memberi yang terbaik untuk agamanya….” Si Limbu dengan bijak menghibur Goci.

“… karena setahuku, jika yang memberikanmu adalah orang kaya itu akan berbeda nilai dalam pandangan Allah.” Limbu menambahkan.

“ Loh, emang kenapa ? Bukankah Allah hanya melihat keikhlasan hambaNya dalam memberi ?” Tanya Gopi penasaran.

“Memang benar, keikhlasan adalah yang utama. Tapi di samping itu bagi orang kaya, Goci mungkin tidak seberapa berharga dan orang kaya itu pasti punya banyak uang senilai Goci bahkan yang nilainya jauh lebih besar. Tapi bagi yang tidak mampu, mungkin Goci bisa jarang ia temui. Atau bahkan jika punya pun pasti sangat berharga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.” Ujar Limbu.

“…. Makanya Allah menilai usaha orang yang tidak mampu, lebih besar ketika beramal dengan jumlah yang sama dengan apa yang di berikan oleh orang kaya. Karena alasan tersebut.” Sertu menambahkan penjelasan dari Limbu.

“Benar… benar… benar.” Dopi dan Gopi tersenyum.

“Iya kawan-kawan. Mungkin jumlahku termasuk kecil bagi orang kaya, tapi ternyata tidak semua orang kaya mau memasukkanku ke dalam sini.” Goci terlihat senang.

“Siapapun yang memasukkan kita ke dalam kotak amal ini, semoga hanya di landasi keikhlasan karena Allah, bukan karena ingin di lihat atau terpaksa.” Kata Sebi.

“Aamiin.” Uang itu serempak berucap.

Dan di sore nan sejuk itu, angin mengiringi langkah si bapak tukang sapu jalanan menyisir setiap jalan di ibu kota dan membersihkannya dari sampah-sampah. Dan uang-uang di kotak amal itu melantunkan doa terbaiknya untuk si bapak.

“Secara fisik bapak itu terlihat miskin, namun hatinya sangat kaya. Ia adalah orang kaya sesungguhnya.” Goci berucap lirih.

Rasulullah saw bersabda, “Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham?” Beliau menjawab, “Ada seseorang yang memiliki dua dirham, lalu mengambil salah satu darinya dan menyedekahkannya. Yang lain, memiliki banyak harta, lalu mengambil darinya seratus ribu dirham saja.” (HR. Ahmad)

Filsafat Kehidupan dari Kancing Baju

contoh cerpen singkat

Oleh Dedi Mukhlas

Pernakah diantara Anda memikirkan tentang pelajaran yang diberikan dari sebuah Kancing Baju? Tidak? Kancing Baju adalah sebuah benda kecil yang berwarna dan berbentuk beragam sesuai dengan motif baju yang kita gunakan. Namun ada pelajaran yang sangat berharga dari sebuah Kancing Baju tersebut. Apa dan bagaimana pelajaran yang bisa diberikan dari sebuah Kancing Baju? Mari kita renungkan sejanak untuk kehidupan yang baik.

Anda mungkin tidak menyadari betapa berharganya sebuah kancing baju ini, perna suatu ketika ketika saya sedang kehilangan sebuah Kancing Baju. Saat itu saya sedang bermain dengan teman-teman dan Kancing Baju saya hilang satu buah, entah dimana? Saya tidak memperdulikannya, hingga pada suatu ketika saya baru sadar baju bagus yang saya gunakan ini tidak berguna ketika kancing bajunya hilang.

Saya mulai merasa tidak suka dengan baju tersebut, Ibu sudah berusaha mengantinya dengan Kancing Baju yang lain. Memang bisa dipakai kembali baju tersebut, tetapi keharmonisan dan keseragaman mulai tak nampak lagi. Sulit sekali mencari Kancing Baju yang sama persis dengan yang sudah hilan tersebut.

Pelajaran atau cerita singkat diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa Kancing Baju jika jatuh, lepas, atau hilang segera cari dan simpan dengan baik untuk dipasang kembali. Jika kita asumsikan dalam kehidupan ini, jika Anda sudah memiliki pasangan jaga pasangan Anda dan jangan sampai lepas. Jika pasangan Anda lepas Anda akan merasakan kehilangan yang amat sangat, memang Anda bisa mencari pasangan yang lain. Tetapi tidak akan bisa sama dan persis dengan pasangan Anda yang sudah hilang.

Mari kita jaga hubungan Anda dengan pasangan Anda, agar Anda dan pasangan Anda bisa hidup rukun dan bahagia. Amin…

Renungan “NASIB”

contoh cerpen singkat

Oleh Virmansyah

25 tahun yang lalu,

Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,

Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,

Kamila ku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bisa terbang”. Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak,”Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

18 tahun yang lalu,

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi ja di pemain bola seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”

17 Tahun yang lalu

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”. Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang yang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”

15 tahun yang lalu,

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania ia hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia a kan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu,

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. “Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga. “Sabar ya, Nak!” hiburku. “Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang mem buat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu,

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. wahai Allah kuatkan aku. Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia.

Anakku ingin aku ada di sisinya di saat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

“Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. “Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”
“Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati.
Iya tidak salah kan, Pak!” Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku.
Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu,

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.

Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal. “Kania?”
“Mas Har, kau . !”
“Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
“Iya? Dia..dia . Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
“Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
“Tidak … tidaaak … ” Kania berlari ke arah jenazah anakku.

Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.”
Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.”

Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita.
Benarkah begitu Iya sayang?

Orang-Orang yang Mengusir Tuhan

contoh cerpen singkat

Oleh Imron Supriyadi

Aku masih menyusuri Jalan Jenderal Sudirman di Palembang. Entah, sudah berapa perempatan jalan kutemui. Sejak keberangkatanku dari Kilometer 12, sampai simpang Rumah Sakit Charitas, aku tak sempat lagi menghitung berapa banyak perempatan atau tikungan jalan. Yang pasti, pada setiap perempatan dan tikungan, selalu saja kutemui beragam bentuk kemiskinan. Ada puluhan bahkan ratusan kelaparan di sana.

Aku turun, tepat di depan pusat pembelajaan International Plaza Palembang. Kunaiki jembatan penyeberangan. Oh, ternyata masih banyak lagi kutemui kelaparan lagi. Kemiskinan masih menempel di setiap dinding kota. Di setiap jembatan penyeberangan. Bukan di perempatan dan tikungan ternyata. Di jembatan penyeberangan banyak lagi kepedihan, keterbelakangan, dan ketertindasan. Sekeping uang logam rupiah kukeluarkan dari kantong. Sebuah tangan kurus dari wajah lusuh itu menerima dengan penuh harap. Dari mulutnya, kudengar kemudian tiga kali ucapan hamdalah, diiringi doa buat kesejahteraan bagi setiap pemberi.

Aku terus berjalan. Membeli beberapa keperluan yang mesti kumakan hari ini, nanti malam dan esok hari bersama Pustrini, isteriku. Pada setiap langkah, aku dan isteriku masih merasakan, betapa beruntungnya aku ketimbang mereka yang ada di jembatan penyebarangan. Aku dan isteriku masih merasa beruntung dengan kehidupan kami jalani, sekalipun, kami juga hidup dalam keterbatasan. Betapa tidak? Baru beberapa menit yang lalu, kujumpai potret umat yang hidup dalam ketertindasan. Mereka hidup dalam lingkaran kemiskinan dan kepedihan, yang belum jelas semua itu akan usai. Mungkin aku tidak akan sanggup, jika Tuhan memberiku nasib seperti mereka. Tetapi, kenapa kenikmatan yang sudah kuterima sering kubalas dengan pengingkaran?

Ketika siang menjelang, mulutku berkata tentang kebesaran Tuhan. Ketika sore tiba, aku tidak jarang meninggalkan Tuhan. Aku sering berkata-kata tentang Tuhan. Tetapi kakiku masih berpijak di alam kebesaran Setan. Badanku tertunduk pada kekuasaan Tuhan. Tetapi batinku masih sering meng-agungkan setan. Mestikah aku harus tetap duduk dan bersujud di atas sajadah, sementara sajadah itu pula sudah menjadi tempatku membuang tinja?

kerongonganku mulai mengering. Aku singgah pada sebuah warung. Hanya sebentar. Datang tiba-tiba seorang pengemis buta. Ia dituntun anak laki-lakinya. Telapak tangannya terbuka lebar. Tentu mengharap logaman rupiah. Aku tidak langsung memberinya. Sebab, posisiku jauh dari tempat pengemis itu. Aku pikir, pengemis itu akan berpindah pintu, setelah menerima logaman rupiah dari orang yang paling dekat dengan pintu, tempat munculnya pengemis itu.

“Aaah, sudah sana! Dasar pengemis buta. Tidak ada uang buat kalian. Kalau mau makan ya kerja! Sana..sana pergi!” Seseorang yang aku kira akan memberi uang, justeru sebaliknya. Orang itu mengusir pengemis dengan menimpali dengan kalimat yang tidak bersahabat. Beberapa menit pengemis itu aku tunggu. Kalau-kalau saja, ia muncul dari arah pintu yang dekat dengan tempt aku duduk. Ternyata tidak. Kedua pengemis itu lenyap bersama kekecwaannya, karena tidak memperoleh uang.

Pukul empat sore. Aku berkemas pulang. Dalam bis yang kutumpangi, kembali datang dua orang anak kecil mengalunkan lagu. Not dan ritme musiknya tidak jelas.

Hanya dengan puluhan tutup botol yang dirangkai dengan kayu, lalu menjadi alat musik. Kedua anak itu bernyanyi, untuk mendapat sumbangan uang dari para penumpang. Aneh, potret kepedihan itu sempat menjadi bahan tertawaan bagi beberapa penumpang. Mereka tertawa, sudah tentu karena kedua anak itu bermain musik tanpa nada dasar. Sehingga yang muncul bukan alunan lagu yang enak dinikmati, namun sebaliknya, suara tanpa irama yang kemudian terdengar. Mereka pun tertawa, sembari menahannya dengan menutup mulut dengan telapak tangan mereka. Hampir saja aku ikut tertawa. Tetapi, aku segera mengurungkan niat itu. Sebab, aku kemudian ingat dengan pesan kiai Dalhari, guru ngaji yang dulu selalu wanti-wanti, agar aku jangan sampai mudah-mudah mentertawakan orang yang sebenarnya tidak mesti ditertawakan.

“Kalau kamu tidak mampu memberi sesuatu pada orang lain yang sedang memintamu, jangan kemudian kamu mentertawakan atau mengejeknya. Justeru kalau diam, itu akan lebih baik dari pada kamu mencibirkan mereka.”

Belum sempat aku mengeluarkan logaman rupiah, seorang perempuan yang duduk di sampingku menyela pembicaraan, seolah ia melarangku untuk memberi logaman rupiah pada kedua anak itu.

“Dik, nggak usah dikasih. Nanti malah tambah malas mereka. Lagi pula itu kan sudah nasib mereka harus begitu.”
“Bu, ma’af, kata kiai saya dulu. Berilah sedikit, karena tidak memberi itu lebih sedikit nilainya.”
Aku tidak lagi memperhatikan wajah perempuan di sampingku. Sebab, aku harus segera turun di sebuah halte.

**

Aku baru saja memasuki pintu gerbang sebuah komplek. Rumahku ada di belakang kompleks ini. Sehingga, untuk sampai ke rumahku, aku harus lebih dulu melewati beberapa tikungan dan belokan dari gedung-gedung yang mewah. Belum lagi sampai di rumah. Kujumpai lagi dua bocah berkerudung. Salah satu diantaranya mengapit sebuah map. Seperti orang yang meminta sumbangan dari rumah ke rumah.

Tepat dugaanku. Keduanya adalah wakil dari sebuah Yayasan Sosial di Palembang. Mereka datang dari pintu ke pintu untuk mendapat sumbangan. Pada setiap rumah, kedua bocah berkerudung itu menyodorkan formulir dan surat tugas ke setiap pemilik rumah yang berhasil mereka jumpai.

“Waduh, dik, bapak sedang tidak ada di rumah. Jadi lain kali saja, ya dik,” Seseorang penghuni rumah di kompleks itu yang berhasil mereka temui mengelak untuk memberi sumbangan.
“Aduh, gimana ya, saya cuma pembantu. Saya mesti nunggu nyonya dan tuan pulang. Saya tidak punya uang.”
“Bi, bilang sama mereka, kita tidak bisa memberi sumbangan. Kita lagi tak ada uang!”

Harapan kedua bocah itu makin pudar untuk mendapat tambahan biaya bagi Yayasannya. Sebab dari rumah ke rumah, yang mereka temui hanya ucapan ma’af. Sementara, ucapan ma’af, sudah pasti bukan yang mereka harapkan. Lagi pula ucapan ma’af tidak akan bisa dibelanjakan untuk kesejahteraan anak-anak terlantar di Yayasan.

Kejadian serupa, sebenarnya bukan saja baru kujumpai hari ini. Sebab jauh sebelum aku menikah dengan Pustrini, peristiwa serupa hampir sering kutemui.

Bahkan, tiga hari sebelum ini, sudah tak terhitung lagi peristiwa yang sama kusaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri. Mungkin, esok atau lusa, aku akan kembali menjumpai lagi orang-orang yang membuang kesempatan berbuat baik. Aneh, kenapa mereka sanggup mengusir peluang berbuat baik? Mungkinkah mereka sudah merasa banyak kebaikan di mata Tuhan? Atau karena mereka juga tidak mengetahui kalau Tuhan selalu menjelma pada setiap kemiskinan, ketertindasan, kelaparan, keterbelakangan dan berada pada setiap kaum lemah?

Sampai di rumah, Pustrini, isteriku menyambut kedatanganku. Tidak seperti biasa. Hari ini, Pustrini nampak heran dengan guratan wajahku sore itu.

“Bang, kenapa, Abang terllihat murung? Biasanya nggak begitu? Lelah sekali, ya Bang?” Tanya isteriku sembari menyedu segelas teh pahit di meja.
Aku tak langsung menjawab. “Ya, lelah. Capek dan banyak cerita.”
“Cerita? Cerita apa?”
“Yah, cerita tentang hidup.”
“Aah, sudah lah Bang, jangan berpikir yang berat-berat dulu. Nanti kalau sudah hilang lelahnya, baru Abang cerita.”
“Aku ini manusia biasa, Tri. Ada saatnya salah, ada saatnya lupa. Makanya aku ingin cerita sekarang.”
Pustrini hanya diam. Seolah menunggu mulutku terbuka kembali untuk menceritakan yang kujumpai di jalan tadi siang.
“Tri, aku di pasar tadi ketemu banyak orang.”
“Ya wajar to, namanya juga di pasar,” jawab Pustrini enteng.
“Ini bukan orang sembarang orang, Tri.”
Kening Pustrini mengerut. Ada tanda tanya di sana. “Orang aneh yang Mas maksud itu orang yang bagaimana, sih? Apa mereka tidak punya hidung? Atau….”
“Bukan, bukan itu, Tri. Tetapi orang-orang aneh itu orang-orang yang suka mengusir Tuhan.”
“Kok, mengusir Tuhan? Apa bukan sampean yang aneh itu, to Mas? Tuhan kok diusir?”
“Ya enggak lah! Orang-orang yang kujumpai tadi siang itu memang orang-orang yang mengusir Tuhan!”
“Tuhan nggak bisa dilihat, kok malah diusir! Aneh! Sudah lah nggak usah sok jadi filsuf! Pusing aku, Bang…”
Aku tersenyum kecil. Ternyata Pustrini juga kenal dengan istilah filsuf. Gadis desa seperti Pustrini, kenal dari mana istilah filsuf?
“Sudah, kalau mau cerita ya cerita! Aku ini mau masak, Bang!”
“Nah, akhirnya kau juga ingin tahu juga, kan?” kataku meledek Pustrini yang makin penasaran.
“Begini, lho, Tri. Kata Kiai kita dulu, Tuhan itu menjelma ke setiap bentuk ketertindasan, keterbelakangan, kemiskinan dan berpihak pada kaum lemah. Bahkan, kata Kiai kita juga, orang miskin yang datang ke rumah kita lalu meminta sumbangan, itu bentuk kepedulian Tuhan kepada kita, bahwa kita masih diberi peluang berbuat baik oleh Tuhan, Ya kan?’
“Iya, Lalu?”
“Nah, di pasar tadi, banyak kesempatan berbuat baik dibuang. Orang-orang mengusir pengemis, pengamen. Dan di sebelah rumah kita ini, di kompleks depan sana, dua orang bocah yang meminta sumbangan untuk yayasan sosial juga diusir secara halus….”
“Lalu, apa hubunganya dengan mengusir Tuhan tadi, Bang?”
“Ya, jelas, kalau mereka membenci ketertindasan, kemiskinan, dan kehausan dan kelaparan, itu kan sama saja mereka telah mengusir Tuhan. Lalu mereka juga membuang kesempatan berbuat Baik yang diberikan oleh Tuhan ke rumah mereka, kan sama saja mengusir Tuhan juga, betul, nggak?”
“Assalamu’alaikum?” Pembicaraanku terhenti ketika dari arah pintu depan terdengar ucapan salam. Tanpa isyarat, Pustrini langsung menyongsong tamu itu.
“Bang! Bang Im!” Pustrini memanggilku.

Di depan pintu, dua sosok bocah yang kujumpai di lorong kompleks itu ada di hadapanku. Mereka datang untuk meminta sumbangan kepadaku. Tuhan hadir ke rumahku. Terima kasih Tuhan. Sekalipun seribu lagi kau hadirkan orang miskin ke rumah kami, atau kau perlihatkan kepada kami ratusan bentuk ketertindasan dan kelaparan, pasti kebaikanmu tidak mungkin bisa terbalas hanya dengan membantu mereka dari kemelaratan dan kelaparan. Tetapi, sekali lagi, terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi peluang bagi kami untuk berbuat baik!**
Palembang, Agustus – Desember 2000

Dinda – makam dan kenangan

contoh cerpen singkat

Oleh : Azzura Lia

tanah merah basah…

kuresapi rinai hujan yg perlahan mulai meluap dari daratan bumi..
sementara Aku masih bertahan di tempatku berpijak sejak sejam yang lalu..

Nenek Aida,
“Kepada-Nyalah kita semua akan kembali”
aku tahu itu..
tapi tetap saja hati ini masih belum bisa melepasmu dengan ikhlas..
entah apa itu ikhlas, aku tak tahu Nek..
yang jelas kini aku masih menangis untukmu.
Lihatlah!!
Aku yang dirimu katakan sebagai “cucu kebangganmu” ini kini tengah menikmati kerapuhannya selepas kepergianmu.. maafkan aku jika hal ini membuat kepergianmu jadi tak tenang..
maf Nek…

ah, semua orang sudah pulang. meninggalkanku sendiri di pemakaman ini bersama tempat tinggalmu yang baru..
yang kuharap tentunya dirimu merasa lebih bahagia di “surga sana”.. amin..

aku yakin Nenek pasti bahagia!seyakin hatiku pada ucapan sahabatku, Ranindita. bahwa,
“orang yang baik pasti akan di kasihi oleh Allah.karna kebaikan sekecil apapun tak akan pernah luput dari kasih-NYA”
nenek Aida orang yang sangat baik..
dan karna kebaikanmu itulah kini Aku merasa tak mampu untuk menahan tangis ini..

teringat pula olehku kenangan lain tentang nenek aida…

“suka Kopi?”

itu tawaran nenek Aida di suatu kali dulu.. saat aku masihlah seorang gadis kepang 7 tahun.
aku tersenyum dan menerima tawarannya. meski sekalipun aku belum pernah merasakan rasa kopi itu.

kuikuti langkah nenek ke dapur untuk membuat kopi.. kulihat kepiawaiannya mencampur sesendok kopi bubuk dan sesendok lebih gula putih ke dalam dua cangkir gelas.. dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya, ia senandungkan sebuah lagu yang asing di telingaku namun begitu harmoni.

rasa penasaran membuatku gerah. akhirnya dengan berani kukatakan pada nenek,
“boleh nyicip bubuk kopinya gak Nek?…”

nenek aida tersenyum dan mengangguk.
segera saja kurasakan sedikit bubuk kopi yang kukira rasanya manis seperti cokelat. tapi ternyata,

“huek, pahit nek.. Dinda gak suka. gak mau kopi ah!”

nenek Aida tetap tersenyum. ia teruskan kegiatannya membuat kopi.
setelah dua cangkir kopi itu jadi, dengan enggan kubantu nenek membawa salah satu cangkir kopi itu ke ruang tamu. di depanku, nenek aida lebih dulu menempati sofa di dekat pintu. barulah kemudian aku menempati sofa di sampingnya.

“Dinda gak mau kopinya nek.. pahit..kopi Dinda buat Nenek aja deh..”
perlahan kuutarakan hasratku pada nenek, tapi tetap dengan senyumnya, nenek aida memintaku untuk mencoba kopi buatannya itu.. akhirnya dengan enggan kutempelkan ujung lidahku untuk menyentuh cairan kopinya.

“Srutt.emm…manis!!! qo manis nek? kan tadinya pahit.. wah.. ini pasti karna gulanya ya nek>?”
aku berseru dengan semangat. langsung saja kuseruput kopi buatan nenekku itu dengan cepat.

“hayo..pake sendok dulu minumnya Dinda.. kopinya masih panas Lho..”
nenek ku tersenyum manis, dan aKu tersipu malu.

sejenak saja nenekku diam lalu akhirnya berucap,
“kopi pahit ditambah gula yang manis jadi minuman yang enak ya?”
aku langsung mengangguk mantap.

nenek tersenyum, kemudian melanjutkan ucapannya..
“dalam kehidupan ini mungkin kita akan mengalami bermacam kejadian yang mungkin membahagiakan, mungkin juga menyedihkan. tapi tahukah Dinda,semua kepedihan dan kebahagiaan itu menjadikan hidup ini menjadi lebih istimewa. tanpa kesedihan, manusia akan menganggap kebahagiaan yang dialaminya adalah hal yang membosankan dan tak berkesan. mengerti?”

aku masih bingung dengan ucapannya. langsung saja aku berucap,
“maksuddnya nekk?”

sebentar saja Nenek Aida menghela napasnya sebelum akhirnya menerangkan maksud ucapannya.
“begini…tanpa kesedihan, maka kebahagiaan pun tak bisa dibedakan dan dikenal. jadi, tetaplah tersenyum meski kamu sedang bersedih. karna pasti!ada kebahagiaan yang akan kamu rasakan nanti.. mengerti?”

aku tersenyum cerah. kupahami maksud ucapannya itu kini.
seperti bubuk kopi pada gula. Ia bisa menjadi minuman yang nikmat ketika gula dan kopi itu ada. Kopi pahit dan gula manis. Maka seperti itu pula lah jalurnya hidup ini. Hidup bisa benar-benar hidup ketika kesenangan diiringi pula oleh kepedihan. Tentu saja yang berimbang,

ah,
aku teringat pula pada satu ucapanmu dulu,
“tiap kehidupan selalu ada permulaannya, Dinda..
pun juga manusia yang lahir ke dunia dengan tangisnya yang kencang sementara orang-orang sekelilingnya menyambutnya dengan senyuman penuh haru..
dan orang yang paling bahagia adalah orang yang manakala ia meninggal kelak, ia akan meninggalkan dunia ini dengan senyuman tenang untuk menemui Tuhannya sementara orang-orang sekelilingnya menangis untuk kepergiannya karna rasa cinta yang ditujukan padanya..”

nenek,
aku jadi mampu untuk tersenyum karna mengingat ucapanmu itu..
tentunya kurasa dirimu cukup bahagia di dunia ini karna kini banyak orang yang menangisi kepergianmu..
lihat saja Aku, nek!aku bahkan tak mampu mempertahankan tangisku..

tentu saja..
mungkin untuk saat ini aku masih akan cengeng tiap kali mengingatmu..tapi lihat saja!
perlahan aku akan mampu menghadapi dan menerima kepergianmu dengan senyuman..
senyuman termanis yng bisa kupersembahkan hanya untukmu, nek..

dan, nenek.. tentu saja benar apa yang kau ucapkan dulu itu.
kurasa kini tak ada yang bisa menghalangiku untuk tersenyum.
itu semua karnamu Nek,
karna senyummu.. ^.^

Itulah beberapa contoh cerpen singkat, semoga berguna bagi semua pembaca setia Bangkudepan, Sampai Jumpa di artikel artikel menarik lainya !

Pencarian Terkait:

Tags: #cerita pendek #cerpen

Contoh Paragraf Induktif
Contoh Paragraf Induktif
Dalam mempelajari bahasa indonesia, salah satu pembelejaran
5 Puisi Bahasa Inggris Terbaik
5 Puisi Bahasa Inggris Terbaik
Salah satu karya sastra yang sering kita
Inilah Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif
Inilah Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif
Kembali ke kategori sastra, kali ini kita
Pengertian dan Contoh Paragraf Argumentasi
Pengertian dan Contoh Paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari,

Comments are closed.

Must read×

Top