5 Contoh Cerpen Bertema Cinta

Cinta merupakan sesuatu yang sangat sulit dijelaskan maknanya. Cinta memiliki arti sendiri disetiap individu yang sedang jatuh cinta. Cerpen yang berisi cerita cerita pendek mungkin bisa sedikit menjelaskan apa itu arti cinta. Cerpen tentang cinta memiliki kisah yang mengandung ekspresi ekspresi ketika seseorang jatuh cinta. Pada artikel sebelumnya telah kami berikan beberapa contoh cerpen berdasarkan pengalaman pribadi yang berisi kisah nyata dalam berbagai hal. termasuk juga tentang pengalaman cinta.

Lihat juga contoh cerpen persahabatan

Berikut ini adalah beberapa contoh cerpen yang bertemakan cinta.

Cintaku Setahun Jagung

Contoh Cerpen Cinta

Oleh: Ramlis Harman Susanto

__ AWAL KISAH INI BERMULA __
Tiga tahun lalu, hmm.. Sudah tiga tahun semenjak itu. Yah, tiga tahun lalu dia selalu mengisi hari-hari ku. Kebanyakan orang mengatakan fase itu adalah pacaran, ketika seseorang sangat spesial di hati kita, dan dia sangat sangat sangat spesial untuk hatiku. Seperti orang bilang, aku pun merasa dan menganggap dia sebagai pacarku. Yah, dia adalah pacarku.

Panggil saja dia Amy.. Keluarga dan sahabatnya selalu memanggilnya dengan nama itu. Amy. Sebenarnya dia adalah seorang puteri yang berasal dari sebuah kerajaan. (* eh, jaman sekarang masih ada kerajaan? # ya adalah, kerajaan cinta di hatiku.. He) Dia memang seorang puteri, seorang Yulia Putri.

__ SEBUAH ALASAN, PERLUKAH? __
Aku benar-benar tak pernah tau, alasan apa yang membuat aku sangat suka sama dia. Bahkan aku bisa gila rasanya bila tidak bertemu dengannya. Haaahh.. Cintaku padanya sangat keterlaluan, terlalu dalam, terlalu besar dan terlalu sangat deh pokoknya. Anehnya, aku juga tak pernah tau cinta seperti apa yang dia suguhkan padaku. Hingga saat ini hatiku masih cinta, tetap mencintai dia. “Oh Tuhan, apakah dia tau?” Apakah aku harus mencari sebuah alasan untuk mencintainya? Perlukah?

March in Love.. Hampir mirip judul film kan “Paris in love”, (sepertinya gak mirip, tapi lumayan miriplah.. hehe.).
Setelah melewati hari-hari yang mendebarkan, akhirnya kami resmi pacaran yang sempat di syahkan oleh sebuah permen “KISS” yang dibelakangnya tertulis “Please say yess”. Ya ampun, permen saja bisa tau apa mauku.. Walau saat itu dia belum mengatakan “iya”, tapi aku sudah memfonisnya duluan secara sepihak, dia sudah jadi pacarku.. Oh senangnya diriku.. Hatiku tambah berbunga-berbunga..

__ DIA INSPIRASIKU __
She is my Inspiration. Hmm.. Bahasa Inggrisnya dah benar gak tuh ya? He
Cinta memang banyak memberikan kotribusi yang besar dalam hidupku. Berawal ketika bersamanya, aku mulai belajar menulis. Walau kadang terlihat lebay, aku tetap menulis karna memang itu yang aku rasakan saat aku menuliskannya. Dia adalah cintaku yang penuh inspirasi. Dia juga bisa merubah diriku jauh lebih baik. Karya pertamaku adalah sebuah aplikasi HP yang telah kurancang dan diisi dengan berbagai catatan, tulisan dan puisi. Karna aku sedang jatuh cinta tentu saja kesemua isinya bertema cinta. Hehe so pasti aku berikan dan teruntuk dirinya dulu.. (^_^)

__ CEMBURU TANDA CINTA__
Dua kata yang diatas itu selalu beriringan dalam perjalan hidupku, tepatnya dalam perjalan cintaku. Cinta dan Cemburu, itulah mereka. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, aku merasa semuanya baik-baik saja. Bahkan sampai bulan keenam juga bisa dibilang tidak terjadi apa-apa. Tapi sungguh disayangkan, bulan ke tujuh aku diserang virus cemburu. Aku cemburu pada teman lelakinya. Oh my god, aku benar-benar cemburu loh!. Kata orang Cemburu itu tandanya Cinta, tentu saja kalimat itu sangat berpengaruh buatku. Secara gitu loh, aku kan sangat mencintainya ;).

__ DIA KEKASIH YANG SABAR __
yup, dia sangat sangat sabar. Menurutku begitu. Ketika masalah cemburu menyerang kisah cintaku, dia selalu sabar dan mentolelir rasa cemburuku. Aku senang bisa damai lagi dengan kekasihku. Damai? Hmm.. Seperti terjadi perang saja ya.. He

Rasa damai itu tidak berlangsung lama, He’s come-back, again. Haduft, bahasa Inggris nya ituloh yang gak nahan. Ok, back to the topick aja yah. Dia ( teman cowoknya yang dulu aku cemburu-i ) kembali lagi mewarnai lembaran sketsa cinta kami. Ingat yah, dia mewarnai sketsa cinta kami, tau sketsa kan? Sketsa kan tidak harus berwarna, tapi dia mewarnainya loh, acak acakan pula.. Kebayang gak sih hasil seperti apa? Hancuuur..
Kali ini dia lebih jahil, kurasa sih begitu. Dia memanggil kekasihku dengan sebutan “Sayank”.. Oh kawan, aku bagai dihujani durian yang berduri. Ups, sebentar, emang ada ya durian yang gak berduri? Hmm..

Hancur sudah hatiku, terbakar, retak berkeping bagaikan piring yang dilemparkan dari langit ke Tujuh hingga ke dasar bumi. Coba bayangkan deh, seperti apa pecahan dan kepingannya, gak kebangkan? Sama, aku juga gak bisa ngebayangin, hehe.

Rasa cemburuku terlalu berlebihan dan membuatnya sedikit bosan. Sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit. Benar saja, dia benaran bosan. Akhirnya, setelah bertengkar yang itu-itu saja, dia memutuskan untuk tidak mau lagi jadi pacarku, hal itu dia lakukan tanpa memberiku kesempatan ke tiga (yang pertama jadi pacarnya, yang ke dua berdamai dari perang pertama, *_*).

__ I’m UNDERSTAND __
Aku sangat mengerti apa yang dia rasakan. Dia hanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Satu hal yang sangat aku mengerti, dia memutuskan diriku agar aku tidak merasa cemburu dan sakit hati lagi. Aku rasa hanya itu alasan yang tepat kenapa dia meninggalkanku. Aku pun merasakan betapa tidak enaknya, betapa tidak nyamannya dicemburui.
Itulah sebuah kesalahan terbesar yang aku lakukan ketika bersamanya, terlalu cemburu dan curiga, seakan aku tidak memberinya sebuah kepercayaan.

__ KARENA DIA… BECAUSE OF YOU __
Cinta, rindu, senang, bahagia, kesal dan sebel, sakit hati serta benci tak dapat dihindari dari sebuah hubungan cinta. Aku dan dia?
Hmmm.. Ketika dia meninggalkanku, sungguh dan jujur aku sangat kesal, sebel, sakit hati, sedih, kecewa dan sakit hati (kata sakit hatinya ada dua untuk menyatakan betapa sakitnya hati ini, hehe).
Beneran loh, aku sangat sakit hati dan menyesal. Sesal dan sakit hatiku bukan karena dia meninggalkanku, tapi karena sifatku yang membuatnya meninggalkanku. Aku hanya bisa diam dan berandai-andai. Andai saja aku tak pernah cemburu pasti sampai saat ini aku dan dia masih bersama dalam satu cinta.
Dia memberiku rasa sakit yang sangat, eh maaf kalimatnya aku ralat yah, bukan rasa sakit yang dia berikan, tapi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam kisah hidupku ini. Bahwa cemburu itu bukan tanda cinta, tapi cemburu itu adalah malapetaka cinta. Yah, itulah pelajaran yang aku petik dari caranya meninggalkanku. Dan semua itu hanya karena dia.. Yups, hanya karena dia..

__ MASA MASA TERSULIT __
Bagai drama korea yang lagi booming tahun 2009 2010-an kemaren, aku pun ikut serta meramaikan ketenarannya. Ikut sertanya diriku bukan karena aku setia menontonnya dilayar kaca. Tapi karena mataku yang sering berkaca-kaca bagaikan film korea itu. Ibarat orang yang sedang berkabung, begitulah diriku kiranya menikmati rasa pilu. Seminggu penuh aku gak bisa tidur nyenyak, bahkan hampir tiga minggu. Sudah berbagai cara aku lakukan, namun tak berhasil mengusir semua rasa sedihku.

Sebulan masih berlanjut hingga sampai bulan ketiga setelah dia meninggalkanku. Rasa sakit itu masih ada, kecewa dan luka dihatiku masi berbekas. Perlu diingat, aku tidak sakit hati padanya, ok!. Aku akui, inilah masa-masa paling dan tersulit sepanjang umurku. Yap, sepanjang umurku yang sudah lewat ini. Jujur tidak mudah meredam hati yang mencinta, tidak mudah bersahabat dengan seseorang yang kita cinta, tidak mudah melakukan itu semua. Semua itu sangat sulit, sangat berat dan butuh sebuah perjuangan untuk melewat masa-masa tersulit ini.

__ TAKKAN ADA YANG BISA MENGERTI __
Dia Pernah membuatku bahagia, jadi…?
Melawan hati itulah yang aku lakukan selama empat bulan setelah dia pergi. Hatiku ingin berkabung saking sedihnya, namun jiwaku berontak tak ingin berkelanjutan. Akhirnya dua kubu itu berperang dalam diriku yang lemah ini. Ingin rasanya aku ikutan curhat ke semua temanku, tapi aku malu. Aku ini laki-laki, masak harus curhat. Pasti cuma jadi bahan tertawaan. Gengsi donk.. Masak cemen..

Dalam berpacaran pasti ada yang pernah mendengar kalimat ini “bisa gak sih, kamu ngertiin perasaanku, dikit aja..”.. Pernah dengarkan?
Aku juga pernah melakukannya, tapi akhirnya aku sadar, tidak ada dan tak akan pernah ada seorang pun yang bisa mengerti perasaan, keinginan hati dan harapan kita. Walau meminta, walau memohon bersembah sujudpun mereka tidak akan pernah mengerti. Hanya diri kita yang tau, hanya jiwa kita yang sepenuhnya mengerti apa yang kita inginkan. Dan aku tak pernah ingin bersedih.. Itu saja.. Akhirnya rasa sedih itupun mengikutinya pergi.. Menjauhi diriku..

__ TERIMAKASIH UNTUK SEMUA __
Semenjak dia pergi aku selalu berusaha menghubunginya, sebagai teman, mendamaikan hati. Itu yang aku inginkan. Tapi entah kenapa setiap kali aku menelponnya (lebih sering) mailbox-nya yang selalu menjawab. “Silahkan tiggalkan pesan anda setelah nada berikut..” Kadang aku merasa bahwa dia benar-benar menjauhiku. Sebegitu bencinya kah dirimu padaku? Tapi dibalik semua kejadian itu jaringan telpon lah yang berulah. Alhamdulillah, dia tidak membenciku. Terimakasih.. Itulah kalimat terakhir yang selalu ku ucapkan setiap kali dia menjawab telponku..
Terimakasih untuk semuanya..

__ CINTAKU SETAHUN JAGUNG __
yack… itulah sebuah kisah yang bisa kuceritakan. Kisah cintaku sendiri. Dimana didalamnya terdapat banyak bab dan lembaran kenangan yang mengisi dan memperindah jalannya kisah itu. Sepenggal kisahku yang mengisi kepositifan dalam diriku ini. Cintaku Setahun Jagung, terjalin tak sampai setahun kalender. Meski tak begitu lama namun memberi dampak positif yang sangat besar dalam hidupku.

__ HAPPY BIRTHDAY __
5 Juli 2012, hari ini adalah hari ulang tahunnya. 25 tahun sudah ia lalui dan mengarungi kehidupan. Semoga dia tambah dewasa, semoga Allah selalu menjaganya, memberi yang terbaik untuknya, tambah solehah dan dilimpahi rezeki-Nya. Ucapan ultahku tidak jauh berbeda dari apa yang di ucapkan para sahabatnya, karena aku juga salah satu dari mereka.
Happy birthday ya, Amy.. Wiss you all the best.. :)

__ SEBUAH KADO MAYA __
Semenjak berpisah aku dan dia sudah sangat jarang bertemu. Apa lagi kami berada di propinsi yang berbeda. O iya lupa, kami putusnya (dia memutuskan aku) hanya lewat telpon loh. Beneran, hanya lewat telpon. Sungguh sadis, kejam sangat kan. Hehe
Setelah kejadian itu akupun jarang pulang kampung, yah biasanya alasan keduaku pulang adalah untuk bertemu dengannya. Tapi semenjak saat itu aku selalu disibukkan pekerjaan, entah kebetulan saja aku jadi jarang pulang. (^_^)

Kali ini aku tak bisa memberinya hadiah langsung, eh sudah ketiga kalinya semenjak kejadian itu loh, hehe.
Cerpen ini sengaja aku kirim tepat di hari ulang tahunnya, aku sih berharap bisa jadi sebuah kado maya di hari ulang tahunnya. Semoga… amiin..

Sehangat Serabi Solo

Contoh Cerpen Cinta

Oleh: Ruri Alifia R

Pasar Klewer. Huh, kenapa siang-kerontang begini aku malah kemari? Mengendarai motor matic-ku yang seakan menderu lelah mengantarkanku kesana-kemari di bawah terik matahari? Ohya, benar. Aku kemari karena kakakku. Ia menyuruhku kemari tuk menjemputnya selepas berburu kain batik.

Astaga! Hari ini sangat panas! Benar berita yang kudengar di radio tadi. Bahwa Kota Solo akan bersuhu sekitar 32° sampai malam nanti.

Kroaak-kroaak!

Perutku berbunyi minta diisi. Ini memalukan. Bunyinya bahkan mengundang orang di sebelahku menoleh-nolehkan kepalanya karena heran suara apa yang baru saja didengarnya. Ya, aku memang belum makan apa-apa sejak pagi. Mending aku makan serabi dulu kali, ya. Batinku saat menangkap penjual serabi solo di tepi trotoar yang terteduhkan oleh tenda pedagang tersebut.

“Serabinya mas, makan sini.” Ucapku memesan kudapan pengganjal lapar itu. Setelah menunggu dan memapah sepiring serabi, mataku menyapu cepat sekitarku. Tak ada meja kosong. Oh, ada! Tepat di hadapan seorang turis asing backpaker yang kini tengah sibuk mengunyah sembari mengutak-atik SLR-nya.

“Mind if i sit here?” Tanyaku pada turis arab berpakaian santai itu. Aktivitasnya terhenti sesaat kala mata hazel coklatnya menatapku nanar.

DEG!

Entah mengapa tiba-tiba aku seolah terkunci pada pandangan sinisnya itu. Oh, Rasya! Ayolah! Ia hanya pemuda kebanyakan. Yang berbeda hanyalah wajah arabnya yang sedikit tampan itu! Apa..? Tampan?

“No, definitely. Feel free to sit.” Ucapnya dingin. Lalu ia kembali berkutat dengan kameranya.

“Oh, okay. Thanks.” Ucapku beberapa detik setelah termangu di tempat. Sejenak, kecanggungan menyelimuti suasana kami. Aku mencoba menyibukkan diri dengan serabi hangat-yang entah mengapa tiba-tiba terasa hambar-di depanku seraya memutar-mutar otak tuk mencari topik apa yang tepat untuk diperbincangkan. Tidak biasa aku menjadi pendiam seperti ini.

“So, Indonesia panas sangat, right?” Tanyanya dengan aksen Inggris kental dan Bahasa Indonesia yang terdengar lucu. Aku terkekeh pelan.

“Yep, tapi kita pasti juga akan merindukan panas ini.” Jawabku berniat tuk membingungkan dirinya.

“Pardon?” Ucapnya dengan mimik muka sok kerennya seakan ia hanya minta pengulangan untuk apa yang kukatakan, bukan meminta penjelasan dari kalimat yang kuucapkan. Aku terkekeh lagi. Jaim sekali ia! “Alright-alright, I can’t speak bahasa fluently. Sorry.”

“You don’t need to apology, mister….” Lalu aku menjelaskan kembali apa yang kukatakan. Aneh. Seketika, lidahku bisa kembali merasakan hangatnya serabi di depanku-yang sebelumnya terasa dingin-ini.

Dan pembicaraan kami mengalir lancar. Kami memperbincangkan banyak hal. Kunilai ia tipe penentang argumen orang. Dengan seulas senyum penuh keyakinan yang selalu tersungging dari bibirnya.

DEG!

Aku bisa merasakan degup jantungku yang tak beraturan setiap aku menangkap cekungan tipis itu. Sial. Kenapa aku jadi begini? Ini tidak biasa. Ini benar-benar tak boleh dilanjutkan. Aku tak boleh jatuh hanya dalam pesona senyum dan manik indahnya itu. Seolah merespon ke-tak-inginan-ku, pemuda arab itu pamit meninggalkanku.

“Well, nice to talking with you, ..?”

“Rasya.”

“Yeah, Rasya. Well-Bye.”

“Bye, have a nice weekend, mister!” Salamku padanya yang kini tengah berjalan keluar. Lalu ia terkekeh lagi menanggapiku. Tidak, jangan..jangan tersenyum lagi, tolong..degupan ini kian meliar dari sebelumnya tuan, ayo cepat pergilah.. Pergilah..

“Can we see again?” Tanyanya yang sontak mengagetkanku tepat ketika secuil serabi akan memasuki mulutku.

Argh! Jantungku! Ya Tuhan, Rasya! Ia hanya pemuda biasa! Mengapa kau bisa sampai segugup ini?

“You want to see me again?” Tanyaku kembali tak percaya dengan apa yang ia tanyakan.

“Why not?” Tanyanya kembali dengan sesungging senyum lebar dari mulut tipisnya. Meninggalkanku yang tersipu dan berusaha menutupinya dengan kembali mengunyah sisa serabiku.

Serabi di piringku sudah tinggal sepotong lagi. Cepat-cepat aku mengunyahnya karena kakakku ternyata telah mengirimiku berpuluh pesan tepat saat aku bebincang dengannya. Kuakui sisa serabi ini tak terasa hangat lagi. Amat beda dengan tadi-saat turis itu masih di sini. Sebentar.. Apa yang sedang kufikirkan?!

“Berapa mas?”

“Nggak usah mbak, sudah dibayar mas arab tadi.”

“Lho?”

“Ini mbak, buat mbak.” Ucap penjual serabi ini dengan menyerahkan secarik kertas bertuliskan tangan seseorang kepadaku.

“Hey, Rasya. Thanks for admit me just now. Nice to know you. We’ll see again, right? I’ll be waiting you here, at the same time, day and place. Next year.
-Zayn
PS: How could i forgot to told you about my name?”

Zayn? Benarkah itu namanya? Oh, Rasya..Kau benar-benar harus mengakui karena telah jatuh hati padanya. Tahun depan, ya. Itu berarti.. aku harus menunggu rasa itu sampai tahun depan, begitu? Ah, aku benar-benar tak sabar. Aku akan sungguh merindukan hangatnya perasaan tadi.

Sehangat serabi Solo saat aku bersamanya.

Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah Aku

Contoh Cerpen Cinta

Oleh: Nira Nurani Teresna Dewi

Hari Sabtu, hari nasional tanpa buku. Ah itu dulu. Sekarang kapan pun, hari apa pun, jam berapa pun, aku harus rela menunda istirahatku hanya demi ngejar-ngejar dosen pembimbing yang super sibuk. Ternyata begini repotnya nyusun skripsi. Juga hari ini. Bu Lia memintaku datang ke kampus. Itulah alasan kenapa aku di sini sekarang. Tepat di depan kantor jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI.
Aneh sekali. Skripsiku ini lagi-lagi tak luput dari dosa-dosa kecil penggunaan EYD. Perbaikan lagi. Cetak ulang lagi. Keluar uang lagi. Intinya akhir minggu di bulan ini uangku semakin menipis.
Aku berjalan menuju kantin. Kampus tidak seramai biasanya, tentu saja. Aku sudah menginjak anak tangga terakhir. Lelah juga naik turun tangga lantai tiga. Di hari Sabtu ini tak sedikit yang datang ke kampus. Dua orang duduk di kursi dekat pintu masuk, satu orang sedang baca mading, beberapa orang mengotak-atik komputer tempat cek nilai, dan satu orang yang baru masuk gedung ini dan menyapa orang disana-sini. Pak Ridwan.
“Pagi Re!” giliran ia menyapaku.
“Pagi Pak!” aku tersenyum.
“Aaaah bapak apaan? Cuma beda satu tahun juga. Mau kemana?”
“Hehe. Ke kantin dulu Pak.”
Aku pergi setelah berpamitan. Heuheu. Siapa sangka kakak tingkatku saat SD yang pernah satu kelas denganku gara-gara ia tinggal kelas, sekarang malah melompatiku jauh sekali. Kuliahnya selesai dalam waktu tiga setengah tahun. Jenius. Takdir memang sulit ditebak. Padahal dulunya ia nakal sekali. Kalau hari Senin ia tak mengembalikan bolpoinku, hari Selasa ia menghilangkannya. Kalau hari Rabu ia meminjam paksa buku Prku, besoknya ia akan tanpa sengaja menghanguskannya. Pokoknya aku selalu menangis dibuatnya. Bukan aku saja, teman-temanku juga. Siapa sangka juga sampai malam kemarin sebelum kemarin ia masih membuatku menangis. Dasar orang nakal seumur hidup.
Waktu itu aku benar-benar menangis karena dia. Tak mengerti kenapa, suaranya saat membacakan ayat-ayat Alquran dua tahun lalu selalu membuatku gelisah. Entah apa yang salah dengan suaranya. Hanya saja, terlalu indah. Karena suara itu aku menangis sejadi-jadinya. Tepat di jam setengah sebelas malam dibawah selimut yang tebal, air mataku mengalir meleleh di bantal biruku. Aku berusaha keras mengusir suara itu, tapi tak berhasil.
Aku ingin seperti yang lain. Aku ingin bisa mengatakan ini padanya. Aku ingin mengatakan aku mengaguminya. Atau lebih?
“De biarlah kekaguman, rasa sayang, dan kecintaan kita terhadap seseorang menjadi rahasia antara kita dan Allah saja. Kalau kamu memang menyadari rasa itu mulai tumbuh dalam hatimu, cukuplah Allah yang Tahu. Cukuplah Allah bagiku, maka cukuplah aku.” Ini adalah nasihat murabiku beberapa minggu lau, seakan ia menyadari kerisauanku.
“Kamu tahu de, berpuasa itu luar biasa sulit. Bahkan mungkin sampai kita sakit. Bener? Tapi coba gimana rasanya waktu kita berbuka? Nikmat luar biasa.”
“Anggaplah apa yang kita lakukan saat ini adalah puasa menahan perasaan kita. Biarkan nikmat itu datang disaat yang tepat, di saat yang seharusnya. Cobalah untuk mengendalikan hatimu de. Tulang rusuk itu tak akan tertukar kok!” begitulah beliau menguatkanku dan aku percaya itu.
Bertahun kulewati dengan menahan rasa itu. Biarkan Allah yang mengatur segalanya. Biarkan Allah menepati janjinya. Aku tak pernah meragukannya sedikit pun. Aku juga tak ingin mengkhianati-Nya dengan mengumbar perasaanku pada orang lain. Cukuplah Allah bagiku, maka cukuplah aku.
Pagi ini aku sudah siap dengan perlengkapan mengajarku. Sejak enam bulan lalu aku mengajar di salah satu SD di Bandung sebagai relawan. Setiap mau berangkat, bunda selalu memperhatikanku detail. Mulai dari jilbab, baju, rok, bros, sepatu, kaos kaki, semuanya bunda perhatikan.
“Pakaian dan jilbab ini yang akan melindungimu saat bunda sedang jauh dari kamu.” Kata-kata ini yang selalu dikatakan bunda padaku. Beruntungnya aku memiliki bunda seperti beliau.
Bunda adalah wonder woman yang hidup di dunia nyata. Bunda adalah Khadijahnya ayah. Bunda tak pernah memberikan sedikit pun hatinya pada orang lain selain ayah walaupun ayah pergi sejak aku masih kecil sekali, 5 tahun. Hebatnya, bunda membesarkanku dan membiayaiku sendiri hingga sekarang aku hampir lulus S1 hanya dengan uang dari hasil usaha Rumah Coklatnya. Anehnya, bunda justru tak pernah suka dengan makanan atau minuman dengan rasa coklat. Perempuan teraneh yang pernah kukenal. Alhasil, keanehannya itu ia turunkan padaku.
Bandung sore agak mendung di jalan Braga. Angin sore memainkan rambut orang-orang yang lewat. Tidak padaku, karena jilbab ini. Angin saja tak berani menyentuhku. Mataku berbinar menikmati pemandangan lukisan-lukisan hebat karya seniman jalanan. Kadang itu hanya lukisan telapak tangan yang biasa saja, tapi karya seni didalamnya luar biasa. Begitu pula dengan makna yang terkandung didalamnya.
Belum satu jam jalan-jalan, bunda menelponku dan memintaku segera menemuinya di Rumah Coklat kami. Malang sekali, tiba-tiba turun hujan.
“Ass, bun ujannya lumayan gede. Nggak bawa payung. Lupa. Aku pulang telat yah.” SMS dikirim.
Aku berteduh di tukang batagor. Hujannya masih deras, berpetir pula. Sejak kecil aku suka sekali hujan, tapi tidak dengan petirnya. Orang-orang berlarian menuju tempat teduh. Disampingku dua siswa SMA laki-laki dan perempuan yang unyu-unyu malah asyik foto sana foto sini. Hhhh dasar anak kecil. Tahu apa mereka soal hidup? Padahal mungkin orang tua mereka begitu khawatir karena mereka belum pulang. Ah, mana mengerti mereka soal itu.
Baru saja aku mengeluarkan buku yang baru kubeli sepulang dari SD siang tadi, seseorang dari dalam taksi yang berhenti tepat didepanku memanggil namaku.
“Rere!” Aku celingukan. Orang itu membuka pintu mobil. Turun dari sana dan menghampiriku. Musibah.
“Lho? Ngapain disini Re?” Tanyanya sambil menyapu sisa air hujan di rambutnya.
“Mmmm mau pulang. Tapi hujan Pak.”
“Ya udah, ikut aja. Gimana?” Pak Ridwan menawarkan.
“Hmmm nggak perlu. Makasih.”
“Udah, nggak papa. Ikut aja. Ujannya juga belum tentu cepet reda.” Lama-lama ia memaksa. Mala petaka.
Akhirnya aku naik juga. Bayangkan gimana rasanya berada dalam satu mobil dengan orang yang sangat tidak ingin kita temui. Bahagia. Lho? Entahlah. Taksi melaju dengan hati-hati. Bandung kali ini macet sekali. Satu menit, diam. Lima menit, tak ada suara. Sepuluh menit, akhirnya ia mengajakku ngobrol juga.
“Kamu abis dari mana Re?” Jantungku berontak.
“Jalan-jalan aja Pak.”
“Ini kan bukan di kampus, panggil kakak aja napa?”
“Hmmm.” Aku tersenyum.
Ah, panggilan apa itu? Aku semakin kaku. Aku buka buku baruku biar terlihat sibuk. Membaca pun aku tak nyaman. Bagaimanapun, kami berada dalam satu mobil dan satu tempat duduk, bersebelahan. Hhh kenapa sempit sekali? Kenapa perjalanannya lama sekali?
“Eh kita ke rumah kamu atau ke toko kamu?”
“Ke toko aja.” Aku tersenyum lagi lalu segera menunduk. Aku benci bila mataku menemukan matanya sedang berbicara padaku. Matanya menakutkan. Mmm lebih tepatnya mengagumkan.
“Hmmm iya iya. Udah lama juga nggak ketemu bunda kamu. Bunda kamu serem kalau lagi marah. Gara-gara bikin kamu nangis tiap hari, akhirnya dimarahinnya juga tiap hari.” Ia tersenyum mengingat kejadian itu. Dulu sekali.
“Dulu itu kita teman atau bukan yah? Heuheu.” Aku tertawa kecil.
“Dulu kamu paling aneh soalnya. Eh bukan, tapi paling lucu. Paling gampang nangis, cerewet, nggak suka coklat juga. Aneh. Nggak disangka sekarang bisa jadi segini diemnya.”
“Orang kan pada berubah kak. (Lagian aku diem kalau deket kakak doang).” Eh aku panggil dia kakak?
“Iya yah? Kamu juga udah gede sekarang.” Tertawa.
Setelah perjalanan yang lama sekali dengan beribu kekakuanku, akhirnya kami sampai juga di toko bunda. Kak Ridwan ikut turun menemui bunda. Rumah coklat bunda ramai dikunjungi orang. Gerimis-gerimis gini orang senang nyicip coklat panas. Pegawai yang tidak lebih dari lima orang terlihat kerepotan. Bunda menyuruhku membantu.
Bunda bingung saat Kak Ridwan menghampirinya. Tentu saja bunda sudah lupa padanya. Kak Ridwan menyalami bunda dan bunda semakin bingung.
“Saya Ridwan bun.”
“Ridwan?”
“Teman SDnya Rere.”
“Ooooo Ridwan yang nakal itu?” Kak Ridwan tertawa. “Sekarang kok ganteng yah?” Bunda mempersilakan Kak Ridwan duduk di kursi yang masih kosong.
“Iya dong bun. Haha. Bunda gimana kabarnya?”
“Bunda mah selalu baik nak.” Kata bunda dengan logat Sunda.
Aku melihat mereka berbincang cukup lama. Aku pergi ke dapur. Saat aku kembali, kak Ridwan sudah pulang. Syukurlah. Aku bisa mencairkan kekakuanku. Bunda juga beraktivitas lagi. Hampir lupa, aku belum salat ashar.
Hujan yang biasanya dingin membekukan, kini ia sejuk menyejukkan. Entah tadi itu anugerah atau musibah. Aku hampir mati ketakutan. Takut menampakkan sesuatu yang tak seharusnya ditampakkan. Puasa ini adalah puasa yang paling sulit yang pernah kulakukan.
Toko kami mulai sepi. Sudah hampir jam lima. Toko hanya buka sampai setengah enam sore. Aku melihat para pegawai juga mulai bersiap untuk pulang. Bunda menghampiriku yang baru keluar dari mushala.
“Kok bisa pulang bareng sama nak Ridwan?”
“Iya bun. Tadi ketemu di jalan. Udah jadi asdos sekarang bun.”
“Waaah alhamdulillah dong yah?”
Sampai di rumah, bunda memberikan sesuatu padaku. Katanya dari Kak Ridwan.
“Apaan bun?”
“Itu undangan dari Nak Ridwan.” Petir yang paling kutakuti menyambar tepat di hatiku.
“Undangan?” Remuk.
“Katanya Nak Ridwan mau menikah besok lusa.” Hancur.
Lagi-lagi ia membuatku menangis. Aku mengerti sekarang. Aku bukan tulang rusuknya yang hilang. Setidaknya aku tak perlu berpuasa lagi. Malam ini aku bisa berbuka. Ternyata berbuka puasa itu tak senikmat yang kubayangkan.
“Teh aku berbuka malam ini. Menunya nggak enak.” Aku mengirim SMS pada murabiku.
“Sabar de. Kalau memang sekarang nggak enak artinya Allah mempersiapkan yang lebih untukmu suatu hari nanti. Jangan berhenti untuk memohon de. Allah pasti mengabulkan doamu. Hanya saja mungkin langsung dikabulkan, ditunda, atau diganti. Bila Dia mengabulkan doamu dengan menggantinya, artinya Dia sudah mempersiapkan yang lebih baik untukmu. Percayalah de! Allah Maha Mendengar. ?”
“Mudah-mudahan teh. Makasih.”
Aku dan bunda menghadiri pernikahan Kak Ridwan. Aku melihatnya. Isterinya cantik sekali dan shaleha sudah pasti. Dilihat dari sisi mana pun tak ada kekurangan. Mungkin ini yang namanya takdir. Seseorang dengan nilai 9 akan mendapat jodoh yang sebanding. Begitu pula seseorang dengan nilai 2 akan mendapat pasangan hidup yang tak jauh dari nilai itu. Sudah dituliskan sejak sebelum mereka lahir ke dunia bahwa mereka akan hidup di rumah yang sama. Ia telah mendapatkan kembali tulang rusuknya yang dulu hilang. Selamat kak! Insyaallah aku ikhlas.
Satu bulan, hidupku sangat tenang. Dua bulan, aku ujian sidang. Tiga bulan, kabar buruk. Isteri Kak Ridwan dikabarkan meninggal kecelakaan. Innalillah. Takdir yang mempertemukan mereka, takdir pula yang memisahkan mereka. Aku dan bunda menghadiri acara pemakaman. Semua orang di sana bersedih. Dengan mata yang sembab, Kak Ridwan masih sempat tersenyum padaku dan bunda. Aku belum pernah melihat Kak Ridwan sesedih ini.
Setelah berpusing-pusing dengan skripsi, akhirnya tiba pula di hari wisuda. Hari yang selalu ditunggu semua mahasiswa. Bunda sangat bahagia. Mudah-mudahan ayah juga bahagia. Ayah melihatku?
Tiga bulan lagi aku akan mengajar di salah satu SMA di Bandung. Aku juga melukis sebagai hobi dan untuk menambah penghasilan. Keuangan membaik, tapi masalah percintaan belum juga ada titik terang.
“Bunda punya calon untuk kamu.” Gumam bunda tiba-tiba saat aku membantunya di toko.
“Calon apa bun? Aku belum…”
“Mau keburu tua?” Bunda memotong.
Dua hari kemudian orang itu datang ke rumah. Ia sangat sopan dan ramah, shaleh pula. Bunda sangat menyukainya. Aku tak banyak bicara, tapi aku akan menerimanya bila memang ia jodohku. Baru beberapa hari kami saling mengenal, bunda ingin aku segera menikah. Aku tak keberatan. Terlalu lama menunda pun tak baik.
Untuk ketiga kalinya ia datang ke rumahku. Kali ini kami membicarakan pernikahan.
“Nak, bunda pikir kamu mau datang dengan orang tuamu. Kenapa malah datang sendirian?”
“Orang tua saya di Malaysia bun. Mengunjungi kakak saya.”
Hari itu ditentukan pernikahan akan dilaksanakan awal bulan depan. Setidaknya aku masih punya waktu setengah bulan lagi untuk menikmati masa lajangku. Aku masih sering ke kampus. Untuk sekedar bertemu dosen atau makan di kantin bersama temanku yang lain yang belum wisuda. Atau pergi ke botanical garden dengan pohon-pohon mati, perpustakaan.
Aku senang membaca novel walaupun tak terlalu pintar mengolah kata menjadi tulisan. Kali ini aku membaca Negeri Lima Menara.
“Re!” Tersenyum.
Orang ini masih saja menakutkan. Bukan, mengagumkan. Masih juga membuatku tiba-tiba terserang kekakuan yang aneh. Kak Ridwan. Apa dia mau menggangguku lagi?
“Kak!” Balas tersenyum.
“Udah lama nggak ketemu. Belum ngasih selamat. Selamat yah udah jadi alumni.”
“Makasih.” Tersenyum lagi. “Ngapain di perpus kak?”
“Ngga ngapa-ngapain. Nyari buku aja. Kebetulan jam kosong. Rumah juga kosong. Jadi kesini aja. Kamu ngapain?”
“Sama.”
Bersyukur ia sudah tersenyum lagi. Mudah-mudahan ia segera menemukan pengganti almarhum isterinya.
“Perpus nggak pernah sepi yah?” Gumamnya sambil membuka-buka buku ditangannya.
Kami mengobrol sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Terlalu lama bersama seseorang yang sering membuatku menangis bisa berefek buruk pada kesehatan batinku.
Satu minggu sebelum pernikahan, undangan disebar. Bunda sibuk mempersiapkan pernikahanku. Membuat banyak sekali cokelat sebagai cemilan untuk nanti di pernikahan. Calon suamiku tiba-tiba berangkat ke Malaysia untuk menjemput orang tua dan kakaknya.
Tiga hari sebelum pernikahan, ia belum juga pulang ke Bandung. Aku bingung. Bunda memintaku menelponnya.
“Halo assalammualaikum.”
“Waalaikummussalam Re!”
“Pernikahan kita tiga hari lagi. Kapan pulang ke Bandung?” Tanyaku pada orang di sebrang sana.
“…….” Diam.
“Halo!” Telpon diputus.
Dua hari sebelum pernikahan, ia belum juga menemuiku. Bunda mulai panik. Tepat di jam 10 pagi, aku menerima SMS darinya.
“Re, maaf! Kita tak bisa menikah. Saya masih bertanggungjawab atas isteri dan putera saya di Malaysia. Maaf juga karena saya berbohong. Orang tua saya sedang di rumah menantunya. Bukan kakak saya. Sekali lagi maafkan saya. Sebenarnya saya sudah hampir bercerai, tapi takdir tidak mengizinkan kami. Mudah-mudahan kamu mengerti. Salam untuk bunda.”
Air mata mengalir tak terbendung. Hatiku sakit sekali. Bunda tak segera ku beri tahu. Aku tak mau melihatnya merasakan sakit sepertiku. Aku pergi menenangkan diri. Di jam 9 pagi, mesjid Alfurqon UPI biasanya sepi.
Sesampainya di mesjid, aku buru-buru ke lantai tiga. Kejutan. Murabiku ada di sana. Aku berjalan ke arahnya, duduk memeluknya. Ia menenangkanku.
“Kenapa de?” Ia bertanya dengan lembut saat aku masih memeluknya erat. Aku tak mampu berkata apapun. Hanya menangis.
“De!”
“Teh, dia batalkan pernikahan.” Aku sesenggukan. Murabiku mulai mengerti.
“Denger de! Teteh rasa, Allah mempertemukan kamu dengan orang yang belum tepat sebelum Dia pertemukan kamu dengan orang yang tepat. Kamu perempuan baik juga cantik. Tak mungkin Allah menjadikanmu nomor dua bagi suamimu. Jodohmu pasti akan segera datang. Kamu hanya perlu sedikit bersabar untuk menunggu.”
Saat pulang, aku segera menceritakan apa yang terjadi pada bunda. Bunda menangis juga merasa bersalah karena membiarkanku merasakan sakit seperti ini. Aku tahu, bunda lebih sedih dariku. Kami hanya bisa saling menguatkan satu sama lain.
Seharusnya hari ini aku sudah memiliki suami. Kenyataannya aku malah menangisinya. Sejak hari itu, aku hanya bolak-balik rumah-toko. Bersyukur tidak lama lagi aku harus mengajar. Setidaknya aku bisa mmbuang kesedihanku sedikit demi sedikit.
Satu bulan berlalu. Aku belum mau membicarakan pernikahan walaupun sempat ada orang yang melamarku. Aku takut sekali dengan yang namanya kegagalan.
“Re, ada nak Ridwan.” Aku menghampiri bunda yang sedang duduk bersama Kak Ridwan. Toko memang tak seramai biasanya. Kami sedikit lebih santai.
“Gimana Re di sekolah?”
“Alhamdulillah lancar-lancar aja kak.”
“Tumben mampir kak?”
“Iya, ada urusan sama kamu dan bunda.” Aku bingung, bunda juga.
“Gini bun, niat saya kesini sebenarnya ingin meminta restu bunda untuk menikahi puteri bunda.” Lagi-lagi petir itu menyambar tepat di hatiku.
Bunda menunggu jawabanku tapi aku belum tahu harus menjawab apa. Aku hanya diam. Butuh waktu untuk memutuskan. Tidak, kurasa ini adalah jawaban dari doaku selama ini. Allah bukan menggantinya, tapi menundanya. Kuputuskan untuk menerimanya.
“Teh, orang yang tepat itu tanpa kucari pun datang sendiri padaku. Sekarang aku merasakan berbuka yang sesungguhnya. Aku yakin, tulang rusuknya adalah aku.”
“Alhamdulillah de :)
Akhirnya aku bisa mengatakan ini. Selamat berbuka!

Cinta Monyet dan Gorila

Contoh Cerpen Cinta

Olej: Nira Nurani Teresna Dewi

Hidup adalah sekarang dan masa depan. Masa lalu? Ah, itu hanya serbuk-serbuk luka termanis penyedap rasa di masa mendatang. Seperti sobekan kisah cinta yang berserakan. Juga puzzle-puzzle yang tak tersusun rapi dan membuat hidup akhirnya tak berbentuk.

Cinta bagai debu, terbang diterbangkan angin yang selalu sibuk berjalan-jalan dan tersesat di hati yang gersang. Lain lagi bila langit biru mulai menghitam, cinta adalah sunyi, tanpa bunyi. Yang selalu terdengar hanya nada-nada datar dan sumbang bergema lemah di langit-langit kamar hatiku.

Pada akhirnya, cinta masih seputar kisah tentangmu yang sekarang berjalan memunggungiku dengan wajah yang sama, ceria seperti biasa, tanpa dosa. Adakah aku di ingatanmu? Tidak ada? Sedikit saja?
Ah, aku masih mengingatmu dengan jelas. Kamu salah satu murid dengan catatan merah kebanggaanmu, mie ayam depan sekolah kesukaanmu, atau peringkatmu yang jauh di bawahku, juga suara sumbangmu yang tak henti menggetarkan gendang telingaku sejak beberapa tahun lalu, dan semua keburukanmu masih terpahat tepat di hatiku. Ah, memangnya apa lebihmu? Hanya kekuranganmu yang membuatku bertahun mengenangmu.

Cinta monyet dan gorila bukan hanya tumbuh subur di masa SMA, bahkan paragraf utama cerita ini berada di masa remaja sebelum aku beranjak dewasa, masa SMP. Konyol memang, tapi senangnya luar biasa dan sakitnya pun dari luar biasa.

Dia adalah seorang teman yang sudah sangat mahir dalam dunia percintaan, mengatakan tiga kata singkat yang memaksaku untuk tergagap tak kuasa menolak. “Aku suka kamu.” Untuk perrtama kalinya aku mendengar kalimat itu. Padahal yang kudapat darinya hanya sebatang coklat yang harganya tak lebih dari seribu rupiah. Betapa murahnya cinta itu. Bahkan kini ia hanyalah dongeng pengantar tidur yang memilukan. Tentu saja dia adalah segalanya. Bahagiaku juga sakitku. Paket komplet kisah cinta masa lalu.

Entah apa kelebihannya atau apa yang kusuka darinya. Ia sama sekali tidak tampan, pintar juga tidak, tidak juga kaya, romantis apa lagi. Hal-hal yang kusukai justru tidak ia sukai. Begitu pula sebaliknya. Aku sampai tak tahu persamaan apa yang kami miliki.

Saat itu saat kami sedang duduk tepat di teras asramaku, ia membawa gitar milik temannya. Tentu saja ia tak bisa memainkannya. Sudah kubilang ia tak ada lebihnya. Ia baru akan mulai belajar dengan gitar itu. Aku hanya tertawa saat ia dengan rasa percaya diri tingkat tingginya mengatakan akan menyanyikan lagu yang mengungkapkan perasaannya padaku. Hari itu adalah hari kedua dalam diary hatiku.
Yang menjadi sound track drama ini hanyalah lagu kecil yang begitu besar maknanya bagiku. Ini adalah lagu luar biasa yang ia nyanyikan untukku. Ia memetik gitar sembarang nada, kemudian menyanyikan lagu itu.

Satu-satu aku sayang kamu
Dua-dua juga sayang kamu
Tiga-tiga sayang sama kamu
Satu dua tiga kamu semuanya
Bayangkan bagaimana suaranya yang terjal dan berliku. Ekspresi wajahnya yang sok menghayati isi lagu. Juga petikan gitar dengan melodi aneh yang ia ciptakan sendiri. Musik terlangka yang pernah kudengar yang karenanya aku tertawa dengan begitu nikmatnya.

Mulai dari petikan nada pertama, kemudian ia bunyikan suara malaikatnya yang tiada duanya, hingga bait terakhir yang nadanya semakin melengking, tawaku tak juga bisa kutahan. Aku begitu bahagia saat itu. Bukan karena suaranya sumbang atau nadanya yang belepotan, tapi karena aku bahagia dan sangat bahagia. Padahal rumput liar pun tahu lagu itu sedikit pun tak ada romantis-romantisnya, tapi untuk yang satu ini aku tak sependapat. Saat itu yang kami lakukan hanya tertawa lagi dan lagi.Inikah cinta? Ah, betapa indah cinta itu Tuhan.
Saat tawa kami mulai megundang lembayung senja datang, ia bertanya padaku dengan lugunya, “Apa lagu itu romantis?”
Jawabku, “Lebih dari romantis.”
“Apa suaraku bagus?”
“Hmmmmmmm.” Tertawa lagi.
“Apa kamu bahagia?”
“Banget.”
Hey aku tak berbohong. Baru kali ini bisa kutemukan kelebihannya dan ternyata lebihnya itu banyak sekali. Bahkan hanya dengan nada aneh itu pun ia sudah mampu mengembangkan sejuta tawa di bibirku. Kelanjutannya adalah kami tertawa lagi untuk kesekian kalinya. Oh Tuhan mengapa ia memikat hatiku begitu dalamnya? Aku benar mencintainya.

Keesokan harinya masih di teras yang sama saat langit di atas asramaku mulai menguning pertanda siang akan berganti malam, ia datang lagi mengunjungiku. Selalu dengan rambut yang mulai meronta-ronta meraih alisnya yang berjajar rapi di atas matanya yang selalu berbinar. Tak pernah lupa memakai sepatu putih yang agak lusuh itu. Ia pasti baru selesai bermain basket di sekolah. Keringatnya terlihat jelas di punggung kaus pendeknya. Meski begitu, kali ini ia tetap tampak manis seperti biasa dengan kaus merah mudanya yang baru kulihat hari itu. Ia bahkan tak merasa malu memakainya. Dasar orang aneh.

Ia tak akan menatapku walau selintas bila ia belum sampai tepat di depanku. Meski demikian, aku tetap selalu menunggu senyuman itu. Ayo senyum untukku! Cepat senyum! Bisikku dalam hati. Tidak terdengar olehnya. Tidak ada senyuman.

Ia menghampiriku lalu terduduk menunduk. Tak ada senyuman pembuka. Aku pun tak menyapa, hanya menatapnya sambil memainkan gantungan di tas gendongnya. Satu menit, dua menit, tiga menit. Akhirnya ia mengangkat kepalanya. Masih dengan napas yang tampaknya begitu lelah. Ia tersenyum. Hmmm manis sekali. Aku membalas.

Teman sekamarku pasti sedang menguping di balik pintu kamar kami. Ia tidak sendiri, selalu dengan tetangga kami yang setahun lebih tua dariku. Pasti sambil membongkar isi diaryku.
“Abis basket?” Aku membuka percakapan.
“Hmmmm.” Ia mengangguk membenarkan dan masih dengan senyuman itu.
Dari dalam kamar mulai terdengar bisik-bisik yang terlalu keras sampai perbincangan mereka pun bisa kudengar dengan jelas. Aku cukup berpura-pura tidak menyadarinya. Mungkin juga dia yang kusebut sebagai pacarku ini mendengar celotehan-celotehan di belakang punggungnya.

“Minggu ini mau pulang?”
“Nggak tahu nih! Kenapa gitu?” Aku balas bertanya.
“Biar aku antar yah!” Katanya mulai bersandar di tiang besar di antara kami.
“Hah? Ehh….”
“Kenapa?”
“Aku kan nggak dibolehin pacaran. Jadi kalo ketahuan aku pasti kena marah.”
“Oh ya ya. Nggak apa-apa deh.” Tampaknya ia sedikit kecewa.

Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Aku menebak, mungkin coklat seribuan lagi atau mie ayam depan sekolah lagi. Jangan-jangan ia akan menyogokku dengan kado kecil atau apa lah itu. Ternyata semua tebakan itu salah. Yang dikeluarkannya adalah boneka Teddy berwarna cokelat berukuran sedang. Mungkin untukku. Aku yakin saat itu wajahku sangat cerah karena senangnya. Benar saja, ia menyerahkannya padaku. Lalu ia bertanya.

“Kamu bisa bungkusin kado nggak?”
“Eh?” Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya.
“Bisa nggak?”
“Aku nggak terlalu pinter bungkusin kado. Buat siapa?” Aku membiarkan boneka itu tergeletak di lantai.
“Teman.” Jawabnya terseynum meyakinkan.
“Oh.”

Menyebalkan sekali. Baru hari ketiga, lembaran diaryku sudah dicoreti dengan kecemburuan dan ketakutan tentang Teddy itu. Kado untuk temannya? Teman yang mana? Pasti perempuan. Pasti cantik. Atau mungkin manatan pacarnya? Aaaaah aku benci boneka Teddy.

Teman-temanku mulai melemparkan bermilyar asumsi yang memancing ketakutanku.

“Jangan-jangan ia selingkuh.” Kata mereka.
“Atau mau balikan sama mantannya.”
Bagaimana caranya aku mencari tahu? Salat? Ah, bahkan Allah tak memberi izin aku untuk pacaran bukan? Mungkin lebih baik cari aman, diam.
Hari ke empat semua masih baik-baik saja. Kami yang belajar di bawah atap kelas yang sama masih berbincang santai bersama. Kali ini ia memamerkan permainan gitarnya yang mulai bisa membunyikan beberapa kunci, E, G, dan C. Kemajuan yang bagus. Sepertinya ia berusaha dengan keras. Jari-jarinya terlihat memerah dan agak bengkak.

Setelah permainan gitar sederhana itu ia mengajakku berfoto bersama dengan handphonenya. Aku tak suka berfoto dengan laki-laki sebenarnya. Lagi pula di sekolah aku merasa sangat culun. Langitnya juga tidak lagi berwarna biru, justru abu-abu. Tampaknya kantung-kantung air di atas sana sudah siap ditumpahkan ke bumi. Foto yang kami buat pun ikut-ikutan mendung.

Hari berikutnya tak ada yang istimewa antara kami. Hanya sapaan basa-basi yang terjadi sekali, pagi hari. Sorenya ia menemuiku seperti biasa. Tak ada bosan-bosannya. Sudah ia cetak foto kami kemarin itu. Sayang, fotonya tak ada bagus-bagusnya. Tepat seperti dugaan. Meski begitu, tetap saja sayang untuk dibuang. Ia mengeluarkan pulpennya lalu menuliskan inisial nama kami di belakangnya, N&A.

Pagi hari ke tujuh aku bangun kesiangan. Pergi ke sekolah pun lebih siang dari biasanya. Dari kejauhan, tepat di kursi sepan kelas aku melihatnya. Berdua. Ia bersama salah satu temanku juga. Ia sempat melihatku tapi tak ada senyuman juga sapaan. Diam. Ah, mereka kan hanya teman, fikirku.

Namun kenyataannya, tak ada satu pun tulisan tanpa coretan. Seperti kisah tanpa akhir. Atau tiada cinta tanpa luka. Sangat tidak mungkin. Yang menyakitkan adalah ketika ia tersenyum dan membuat senyuman di bibir orang lain. Juga saat ia menyenandungkan nada sumbangnya di telinga orang lain. Atau saat ia memamerkan kemampuan gitarnya pada orang lain. Rasanya sakit sekali.

Ternyata bahagia itu hanya ada dalam tujuh hari yang singkat. Ah, cinta apa itu? Ia bahkan tak keberatan membagi kisah-kisahnya pada gorilanya tepat di depan monyetnya. Betapa jahatnya. Betapa sakit cinta itu. Betapa tak bernilai kisah lalu itu. Ia hanya berjalan pergi membelakangiku dengan senyumnya yang terkembang untuk cinta-cinta lain yang siap tertipu sepertiku.

Betapa pun sakitnya, lagu Satu-satu itu masih tetap mampu melukiskan senyum di bibirku hingga air mata melintasi pipiku. Karena meski aku bertemu cinta lainnya lagi dan lagi, suara tanpa nada itu masih menjadi peran utama setiap kisah di hidupku, maka inilah lagu untukmu.

Keikhlasan Cinta

Contoh Cerpen Cinta

Oleh: Ramlis Harman Susanto

Cuaca yang terik ini bukan suatu alasan untukku merasakan panas yang serasa membara sampai ke lerung jiwa. Tapi keadaan ini yang membuatku terasa semakin (ingin) menyesal. Tak mau rasanya aku seperti ini. Benar-benar tidak ingun.

Ketika keinginan, cita, hasrat dan cintaku sepertinya tidak bisa aku miliki sepnuhnya seperti apa yang ada terancang dalam hati dan fikiranku.
Ingin rasanya aku menentang takdir Tuhan yang telah mengirimku ke dunia ini tanpa apa-apa. Yah tanpa apa-apa..
Tanpa kemampuan, lemah tak berdaya, hanya bisa sabar. sabar dan selalu saja sabar. Haruskah aku juga mengatakan Kesabaran itu ada batasnya?
Tapi hal itu tidak berlaku padaku, kesabaranku tiada batasnya atau aku ini memang tidak bisa apa-apa?
Bahkan setelah (semua) apa yang aku lakukan masih belum bisa mencukupi itu semua..

“Wahai… yang disana (Tuhan)..
Yang sedang melihatku penuh senyuman…
aku tidak akan meminta pada-Mu agar dia jadi milikku,
aku merasa tidak adil berbuat itu, sementara diluar sana (begitu) banyak yang (juga) menginginkannya..
Ingin mempersuntingnya..
Memilikinya seutuh-utuhnya..
Hanya satu hal harapanku untuknya, yang ingin selalu aku pintakan pada-Mu
yang (juga) harus Kau kabulkan
yakinkanlah hatinya dengan ketentuan-Mu, agar dia bisa menjalankan citanya tanpa rasa berat dihatinya

dan ini satu hal untukku yang benar-benar harus Kau dengar bagai sebuah doa..
aku tidak ingin menangisi kepergiannya, walaupun hatiku (benar telah seperti) hancur bagai debu yang paling halus,
namun ku masih ingin tetap (seperti sangat) kuat dan tegar dihadapannya..
tolong juga ijinkan aku,
dengan waktu yang (mungkin) masih ada tersisa,
untuk tetap bisa memberikan segala yang terbaik yang aku bisa..
untuk tetap bisa mengukir seuntai senyuman yang selama ini membuatku bahagia..
hai Sang Pencipta yang tidak pernah merasa menyesal menciptakan sesuatu..!!
jadikanlah aku.. Jadikanlah aku sebagian dari sifat-Mu itu..
aku juga tidak ingin sesalkan, atas segala apa yang telah aku lakukan selama bersamanya
Hatiku benar-benar sangat lemah, sangat lemah…”

Padahal sebelumnya, aku tidak pernah (ingin) merelakan kepergiannya meninggalkanku. ingin rasanya aku untuk sedikit memaksa,
“Tolong jangan tinggalkan aku dalam keadaan begini,
kumohon bersabarlah, ku ingin kau tetap bersamaku
walaupun penantian itu terasa sangat berat buatmu, lakukanlah untukku..
untuk cinta yang selama ini telah kita jalani..
Kumohon.. Tetaplah bersamaku
Walau apapun yang terjadi, tetaplah disampingku..
dan aku akan selalu berusaha menjagamu..”

Kurasa itu semua tidak mungkin lagi aku lakukan, hatimu sudah terlalu lelah dengan kata “penantian dan menunggu”
sepertinya waktumu sudah cukup banyak terbuang sia-sia, hanya karena Menunggu… Menunggu… Dan Menanti…
sekarang (mungkin) sudah saatnya kau mengakhiri itu semua
penantianmu akan segera berakhir…

Pergilah..
Pergilah..
Pergilah tanpaku… Bawalah semua cinta yang pernah kau selipkan dihatiku
, jangan kau sisakan sedikitpun
, kikis semua rasa sayang dan kasihmu terhadapku
dan jangan kau tumbuhkan rasa dendam dan sakit hati untukku, untukmu.
karena kutak inginkan semua kenangan indah tentang kita hanya (akan) tinggal menyiksa perih dihatiku dan hatimu. Jadikanlah semua itu kenangan masa lalu yang pantas untuk disimpan. Diingat untuk renungan sambil tersenyum dihari tua kita nanti..

kau Kekasihku yang Luar Biasa..
telah kau luluhkan hatiku dengan ketulusan hatimu
tak pernah ku rasakan cinta sedalam cintamu
kau Kekasihku yang Luar Biasa..
mencintai aku seutuhnya
menjadikanku arti di hidupmu
bahagia punya cinta sepertimu
kau lengkapi kelemahanku dengan semua pengorbananmu
di dalam senang dan sedihku kau selalu ada

Pencarian Terkait:

Tags: #cerpen cinta #contoh cerpen

Contoh Paragraf Induktif
Contoh Paragraf Induktif
Dalam mempelajari bahasa indonesia, salah satu pembelejaran
5 Puisi Bahasa Inggris Terbaik
5 Puisi Bahasa Inggris Terbaik
Salah satu karya sastra yang sering kita
Inilah Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif
Inilah Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif
Kembali ke kategori sastra, kali ini kita
Pengertian dan Contoh Paragraf Argumentasi
Pengertian dan Contoh Paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari,

Comments are closed.

Must read×

Top