All Because Rangking

Hari ini wajah chika sangat murung. Dia duduk dipojokan kursi. Dia menunggu mamanya yang sampai saat ini belum pulang dari sekolahnya untuk mengambil raportnya. Setiap kali pengambilan raport, wajah chika selalu murung. Ini semua karena tetangga – tetangganya dan teman – teman arisan mamanya yang selalu menanyakan rankingnya di sekolah.
Apalagi, mereka selalu membandingkan dirinya dengan kakaknya yang selalu mendapatkan ranking pertama dikelasnya. Chika semakin bertambah murung mengingatnya.

”lebih pintar kakak kamu ya dibandingin kamu” kata teman arisan mamanya padanya saat dia menyuguhkan makanan ringan dan minuman. Dia hanya tersenyum menanggapi sindiran itu.

Chika sadar, kemampuannya di sekolah biasa – biasa saja, tidak terlalu pintar juga tidak terlalu bodoh. Setiap kali kenaikan kelas, chika selalu naik, meski dengan nilai yang tidak begitu istimewa.

Mamanya sendiri tak pernah mempersoalkan apakah Chika ranking disekolah atau tidak. Yang penting Chika tidak malas untuk berangkat sekolah. Itu sudah cukup. Tapi ternyata teman – teman arisan Mamanya dan tetangga – tetangganya tidak sebijak itu. Bagi mereka, anak yang mendapat ranking satu di sekolahnya adalah segala – segalanya. Inilah yang membuat Chika murung.

Saat teringat memori menyedihkan dalam hidupnya, tiba – tiba dia terbangun oleh suara sepeda motor Mamanya yang memasuki bagasi rumah. Dia tak berdiri untuk menyambut Mamanya di depan pintu. Dia hanya duduk di kursi dengan posisi yang berbeda. Hingga Mamanya masuk ke dalam rumah sambil membawa map warna merah.
Mamanya mengulurkan Map warna merah ke arahnya.

”nggak usah dikasih ke aku Ma, aku juga tahu hasilnya, pasti nggak dapat ranking sama kayak kemarin” katanya merendah diri.

”sayang, jangan gitu dong!”

Chika melihat nilai – nilainya. Melihat tak ada tinta hitam di bagian ranking, semakin membuatnya bertambah murung. Dia sudah berusaha belajar mati – matian, nggak pernah tidur sore menjelang ulangan. Tetapi, hasilnya tak pernah meningkat, kalau pun meningkat pasti hanya 0,5 saja. Dan itu kecil sekali untuk dapat mengalahkan pemegang peringkat lima di kelasnya.

”ada apa lagi sih, Chika? Tidak perlu sedih meski kamu tidak mendapat ranking. Yang penting kamu tetap rajin belajar dan jangan lupa berdoa” bujuk Mamanya sambil mengelus sayang rambut Chika.

”tapi aku kesal Ma, teman – teman Mama arisan selalu saja tanya Chika ranking berapa, juara berapa, apalagi tante Irna iiihhh……..kesel deh. Trus tetangga – tetangga pada bandingin aku dengan Kakak yang memang lebih pintar dari aku dan selalu mendapat ranking satu di kelasnya” jawab Chika.

”nggak boleh gitu dong, biar saja mereka bertanya dan mau ngomong apa tentang kamu.. setiap orang kan kemampuannya tidak sama. Mungkin nilai pelajaran kamu di sekolah biasa – biasa saja. Tapi Mama yakin, kamu punya kemampuan lain yang tidak dimiliki oleh temanmu yang jadi ranking satu di sekolah. Jadi tak perlu sedih!. Tuhan menciptakan manusia itu selalu dengan kekurangan dan kelebihan masing – masing. Orang – orang yang sukses, juga tidak semuanya pernah mendapat ranking satu, bukan?” nasihat Mamanya.

Iya deh Ma” jawab Chika masih dengan muka sedih.

Chika menutup raportnya dan memasukkan lagi ke dalam map. Dia tersenyum ke arah Mamanya. Mamanya mengacak – ngacak rambut anaknya sambil tersenyum lebar melihat anaknya bisa tersenyum kembali.

Sore itu, seperti biasa, Chika menyirami bunga mawar di taman teras samping rumahnya. Setelah selesai, dia memilih bunga – bunga mawar yang masih segar dan memetiknya dengan gunting rumput. Lalu, dia membawa bunga – bunga mawar yang telah terlepas dari dahannya menuju ayunan merah jambu kesayangannya. Dia mengayun – ayunkan tubuhnya perlahan – lahan. Sambil melamun, dan merangkai bunga – bunga mawar tadi membentuk satu kesatuan.
Dan tanpa sadar, Mia, teman sebangkunya di kelas sudah berada di belakangnya.

”hai, melamun ya!” suara Mia mengejutkan Chika.

”ah kamu, membuat kaget saja”

”habis kamu melamun sih, awas loh, nanti cepat tua, ngomong – ngomong, kamu mau nggak ikut lomba lukis di Tunjungan Plaza Surabaya?” tanya Mia.

”lomba lukis? Kapan?” tanya Chika penasaran.

”minggu depan”

”iya deh aku ikut, kamu sendiri bagaimana? Ikut nggak?”

”tentu dong, aku kan yang ngajak kamu”

Seminggu kemudian mereka mengikuti lomba melukis yang disponsori oleh gabungan beberapa perusahaan bekerja sama dengan stasiun TV swasta di Surabaya. Mereka melukis dengan penuh percaya diri. Chika melukis dengan tema ”Reboisasi” sedangkan Mia melukis dengan tema ”Ruang Bawah Laut”.

Setelah dua jam menunggu para juri menentukan siapa yang pantas menjadi juaranya. Tibalah pada saat yang ditunggu – tunggu. Pembawa acara naik ke atas panggung. Dia akan mengumumkan siapa yang menjadi pemenangnya.

”kita umumkan juara ketiga lomba melukis, diraih oleh Indra Laksono. Dan juara kedua diraih oleh Putri Meinita dan ini yang paling ditunggu – tunggu. Juara pertama kita hari ini diraih oleh………….”

Chika deg degan menanti pengumuman itu. Bibirnya tak henti bergumam membaca doa.

”Chika Prisilia” teriak pembawa acara.

Mendengar namanya disebut, bibirnya kaku. Tanpa sadar Chika menitikkan air mata. Mia mendorong tuibuh Chika untuk naik ke atas panggung. Chika menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan telapak tangannya. Dengan langkah tertatih – tatih, Chika naik ke atas panggung. Dia menerima piala penghargaan yang cukup besar dan dia juga menerima sejumlah uang sebagai reward.

Di rumah, Chika memamerkan piala besarnya memenangkan lomba melukis kepada Mamanya. Dia sengaja menaruhnya di ruang tamu agar teman – teman arisan Mamanya dan tetangga – tetangganya mengetahuinya.

”Mama bilang juga apa, akmu punya kemampuan luar biasa yang orang lain belum tentu punya” kata Mamanya.
Chika tersenyum, dia telah menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dia semakin percaya diri dan semenjak itu, semua tetangga – tetangganya dan teman – teman arisan Mamanya tidak lagi meragukan kemampuannya. Bahkan, mereka selalu memuji Chika. Membicarakan Chika di setiap ada kesempatan untuk berbicara, dimana pun mereka berada. ***

Pencarian Terkait:

Tags: #pendidikan #Rangking

8 Saran Asing Yang Berguna Buat Mahasiswa
8 Saran Asing Yang Berguna Buat Mahasiswa
Masa-masa kuliah sering jadi momen yang sulit dilupakan
Belajar Finansial sejak Dini
Belajar Finansial sejak Dini
Seberapa muda seseorang mesti mulai memahami seluk
Sinopsis : English Vinglish
Sinopsis : English Vinglish
English Vinglish adalah sebuah film yang unik
Jangan Hanya Bertumpu pada Pendidikan Formal
Jangan Hanya Bertumpu pada Pendidikan Formal
Jutaan anak usia sekolah yang belum bersekolah

Leave a reply "All Because Rangking"

Must read×

Top