Spidol dan Kapur Sebagai Simbol Kesenjangan Pendidikan

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berada di tengah proses perubahan sosial serta budaya yang pesat sebagai akibat dari globalisasi. Sebagai bentuk masyarakat yang mulai memasuki budaya modern, hal ini membawa dampak banyaknya warga masyarakat yang semakin menjauhkan diri dari budaya asli sehingga masyarakat semakin memandang nilai etika dan moral tidak begitu mengikat dan tidak menjadi dasar kehidupan. Masyarakat Indonesia telah menjadi masyarakat terbuka dan menerima budaya global, serta secara terbuka menerima unsur dan nilai budaya asing, tak terkecuali juga secara terbuka menerima budaya konsumtif dari barat.

Selain itu, globalisasi juga memperparah kesenjangan sosial yang ada di Indonesia. Hal ini tampak dalam presentase Total, jumlah penduduk hampir miskin tahun ini menurut data BPS yang telah mencapai 27,12 juta jiwa atau sekitar 10,28 persen dari total populasi. BPS mencatat, selama tiga tahun terakhir, jumlah penduduk hampir miskin terus bertambah secara konsisten. Pada 2009 jumlah penduduk hampir miskin berjumlah 20,66 juta jiwa atau sikitar 8,99 persen dari total penduduk Indonesia. Pada 2010, jumlahnya bertambah menjadi 22,9 juta jiwa atau 9,88 persen dari total penduduk Indonesia (http://www.pikiran-rakyat.com/node/166871).

Dampak kesenjangan sosial yang terjadi menimbulkan dampak berupa kesenjangan di bidang kehidupan yang lain. Bidang tersebut yaitu pendidikan. Proses globalisasi telah membuat perubahan yang besar dalam lapangan ekonomi dan politik. Karena itu mau tidak mau juga akan menimbulkan perubahan-perubahan besar dalam bidang pendidikan baik pada tingkat lokal maupun tingkat nasional. Padahal, pendidikan merupakan tombak kemajuan suatu bangsa.

Dapat dikatakan, di dunia pendidikan tengah terjadi kesenjangan pendidikan antara pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk orang kaya dengan pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk orang miskin (masyarakat kalangan menengah ke bawah). Kesenjangan pendidikan ini tampak dalam beberapa hal yang terkadang terkesan mencolok di antara keduanya. Dari segi kurikulum, sarana dan prasarana, serta tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Semua sekolah di pedesaan belum menggunakan kurikulum secara maksimal, bahkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan tidak mempersiapkan silabus dan rencana pembelajaran yang menjadi tugas sebelum mengajar. Hal ini diperparah dengan kondisi sarana dan prasarana di sekolah yang kurang memadai apabila dibandingkan dengan sekolah di perkotaan. Sekolah pedesaan identik dengan kapur sebagai alat pembelajarannya, di sisi lain sekolah perkotaan identik dengan spidol merk Boardmarker sebagai alat pembelajarannya yang terkesan istimewa. Inilah sekelumit kesenjangan pendidikan yang menjadi momok bagi masyarakat.

Pepatah barat kaum kapitalis menyebutkan “tidak ada sarapan pagi yang gratis”. Pepatah ini mulai digunakan oleh beberapa perguruan tinggi besar di Indonesia dalam menjalankan visi pendidikannya. Beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memasang tarif yang dapat dikatakan luar biasa, akibatnya sebagian besar orang tua dan anak-anak lulusan SMA yang berasal dari kalangan menengah ke bawah menjadi kelimpungan. Impian untuk dapat mengenyam pendidikan di PTN favorit seakan dihadang ranjau yang membahayakan masa depannya. Ada sebuah fenomena menarik di kalangan PTN besar dan favorit di Indonesia yang terkesan “money oriented”, hanya bersifat materialistis belaka, yang hanya dengan sebuah argumentasi bahwa subsidi dari pemerintah untuk PTN minim sekali dan tidak dapat memenuhi kebutuhan PTN. PTN ini telah membuat kebijakan pembayaran uang kuliah yang sulit dijangkau masyarakat umum, tanpa mau berpikir panjang mencari sumber-sumber dana alternatif selain “memeras” mahasiswanya.

Pihak PTN berpikir bahwa kampus yang mereka kelola sangat marketable sehingga mereka pun mengikuti hukum ekonomi, “biaya tinggi mengikuti permintaan yang naik”. Memang cukup dilematis, di satu sisi masyarakat dan negara selalu ingin meningkatkan kemampuan atau kecerdasan penerus bangsanya, tetapi secara paradoks masyarakat telah dibelenggu oleh biaya pendidikan yang mahal dan membuat seolah-olah pendidikan hanya untuk kaum atas.

Liberalisasi pendidikan terutama pada perguruan tinggi yang dipromosikan oleh WTO (World Trade Organization) sebetulnya dibungkus dengan sesuatu yang positif yakni agar lembaga pendidikan asing bisa memacu peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, namun realitas di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan cita-cita awalnya. Maka pendidikan tinggi di Indonesia semakin mahal dan semakin menjauhkan masyarakat menengah ke bawah untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi negeri favorit yang murah.

Selain itu, pendidikan di negara kita juga dihinggapi oleh masalah masih minimnya tingkat kesejahteraan para pendidik (kaum guru) yang mengemban tugas meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa yang dilabelkan kepada sosok guru telah membentuk kesadaran masyarakat tersendiri bahwa tugas guru hanya mencerdaskan bangsa tanpa mengurus kesejahteraannya sebagai manusia. Guru merupakan faktor yang penting dalam pendidikan, sebaik apapun sistem dan kurikulumnya yang dibuat, jika tidak didukung oleh profesionalisme guru maka bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal.

Pemerintah dalam melakukan reorientasi pendidikan belum menyentuh substansi dasar pada pihak pendidik dan sarana prasarana belajar, selama ini pembaharuan baru ditunjukkan melalui perubahan-perubahan kurikulum saja dan masih minim melakukan perbaikan sarana dan prasarana, kita bisa lihat di pedesaan banyaknya gedung-gedung sekolah yang rusak dan kurang mendapat perhatian serius. Oleh sebab itu, Pemerintah dan lembaga politik lainnya harus memiliki komitmen untuk terus berupaya meningkatkan anggaran bagi dunia pendidikan di Indonesia sehingga angka 20% yang “didengung-dengungkan” selama ini dapat segera terealisasikan.

Seorang petani bertanya, “Apa mungkin seorang petani seperti saya menyekolahkan anak sampai kuliah ?” ucapnya lirih. Begitulah realitas yang terjadi pada pendidikan di negara kita. Pendidikan masih dinikmati oleh orang-orang yang mampu, belum dapat dinikmati oleh semua.

 

Pencarian Terkait:

Tags: #Kesenjangan #kurikulum #pendidikan

8 Saran Asing Yang Berguna Buat Mahasiswa
8 Saran Asing Yang Berguna Buat Mahasiswa
Masa-masa kuliah sering jadi momen yang sulit dilupakan
Belajar Finansial sejak Dini
Belajar Finansial sejak Dini
Seberapa muda seseorang mesti mulai memahami seluk
Sinopsis : English Vinglish
Sinopsis : English Vinglish
English Vinglish adalah sebuah film yang unik
Jangan Hanya Bertumpu pada Pendidikan Formal
Jangan Hanya Bertumpu pada Pendidikan Formal
Jutaan anak usia sekolah yang belum bersekolah

Leave a reply "Spidol dan Kapur Sebagai Simbol Kesenjangan Pendidikan"

Must read×

Top